Benarkah jeroan dan daging merah picu asam urat? Simak penjelasan dokter soal asam urat, purin, makanan tinggi purin, dan risikonya.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Minggu, Juni 21, 2026
![]() |
| dr. Tirta Mandira Hudhi |
PEWARTA.CO.ID — Anggapan bahwa jeroan dan daging merah menjadi penyebab utama penyakit asam urat sudah lama beredar di masyarakat. Banyak orang memilih menghindari kedua jenis makanan tersebut karena dianggap dapat membuat kadar asam urat dalam tubuh meningkat.
Namun, apakah anggapan tersebut sepenuhnya benar? Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa kaitan antara konsumsi jeroan, daging merah, dan peningkatan asam urat memang memiliki penjelasan secara medis.
Menurut dr. Tirta, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jeroan dan daging merah termasuk makanan yang memiliki kandungan purin cukup tinggi. Senyawa purin inilah yang berkaitan dengan proses terbentuknya asam urat di dalam tubuh.
Kandungan Purin dalam Jeroan dan Daging Merah
Jeroan dan daging merah sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kedua jenis makanan tersebut mengandung berbagai zat gizi, mulai dari protein hingga sejumlah makro dan mikronutrien.
Meski demikian, makanan tersebut juga mengandung purin. Senyawa ini menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan adenin dan guanin yang berperan sebagai bagian dari ATP (adenosine triphosphate) serta DNA.
Saat tubuh melakukan metabolisme terhadap purin, salah satu hasil akhirnya adalah terbentuknya asam urat.
“Jadi, dari berbagai jurnal, jeroan dan daging merah itu mengandung banyak makro dan mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain protein, jeroan dan daging merah ini juga mengandung zat yang bernama purin,” kata dr. Tirta.
Meski sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan, asam urat sebenarnya bukan zat yang sepenuhnya buruk bagi tubuh. Dalam jumlah yang normal, senyawa tersebut memiliki fungsi tertentu.
Asam Urat Tidak Selalu Berbahaya
dr. Tirta menjelaskan bahwa asam urat dalam kadar yang sesuai masih memiliki manfaat bagi tubuh. Salah satunya adalah berperan sebagai antioksidan serta membantu proses antiinflamasi.
Gangguan biasanya terjadi ketika tubuh tidak mampu mengelola hasil metabolisme purin dengan baik. Jika proses pembuangan asam urat terganggu, zat tersebut dapat menumpuk di dalam darah.
Kondisi ketika kadar asam urat melebihi batas normal dikenal sebagai hiperurisemia. Pada tahap tertentu, kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan akibat penumpukan kristal asam urat.
“Cuma ternyata asam urat juga masih berguna sebagai zat antiinflamasi jika kadarnya sesuai. Namun, kalau fungsi organ hati tidak optimal, proses pembuangan atau clearance asam urat dari tubuh bisa terganggu sehingga kadarnya menjadi berlebih,” jelasnya.
Seafood Juga Bisa Tinggi Purin
Selain jeroan dan daging merah, dr. Tirta juga mengingatkan bahwa sumber purin tinggi dapat ditemukan pada jenis makanan lain.
Beberapa makanan laut atau seafood juga diketahui memiliki kandungan purin yang cukup tinggi. Karena itu, konsumsi berlebihan berbagai makanan tersebut perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki risiko peningkatan kadar asam urat.
Menjaga pola hidup sehat menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengontrol kondisi metabolisme tubuh. Aktivitas fisik secara rutin juga disebut dapat membantu menjaga keseimbangan kesehatan secara umum.
Asam Urat Tinggi Berkaitan dengan Metabolisme
Menurut dr. Tirta, kadar asam urat tinggi cukup sering ditemukan pada orang dengan kondisi obesitas atau berat badan berlebih. Hal tersebut berkaitan dengan proses metabolisme tubuh yang dapat mengalami perubahan.
Selain itu, kelompok usia lanjut juga lebih rentan mengalami masalah tersebut karena fungsi metabolisme dan kerja enzim dalam tubuh dapat mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
“Ya, salah satunya dengan olahraga. Itulah alasan mengapa orang yang kadar asam uratnya tinggi biasanya mengalami obesitas atau overweight. Kondisi ini juga sering terjadi pada usia lanjut karena metabolisme dan kerja enzim di hati mulai menurun,” pungkasnya.
Dengan demikian, konsumsi jeroan dan daging merah memang memiliki hubungan dengan kadar asam urat karena kandungan purinnya. Namun, faktor kesehatan tubuh secara keseluruhan, metabolisme, serta pola hidup juga turut berperan dalam menentukan risiko peningkatan asam urat.



















































