RI Stop Impor Beras, Jagung, dan Gula: Wamentan Sudaryono Ungkap Penguatan Swasembada Pangan

2 hours ago 4

RI stop impor beras, jagung, dan gula disampaikan Wamentan Sudaryono sebagai bukti swasembada pangan menguat dan upaya perbaikan pertanian berlanjut.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Rabu, Juni 24, 2026

 Wamentan Sudaryono Ungkap Penguatan Swasembada Pangan
RI Stop Impor Beras, Jagung, dan Gula: Wamentan Sudaryono Ungkap Penguatan Swasembada Pangan

PEWARTA.CO.ID — Indonesia mencatat capaian penting dalam sektor pangan nasional setelah berhasil menghentikan impor sejumlah komoditas strategis seperti beras, jagung, dan gula. Pemerintah menyebut langkah ini sebagai tonggak yang patut diapresiasi dalam upaya memperkuat kemandirian pangan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan nasional. Meski begitu, pemerintah tetap melanjutkan berbagai pembenahan agar swasembada pangan tidak hanya tercapai, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.

Indonesia hentikan impor pangan strategis

Wamentan Sudaryono menuturkan bahwa Indonesia saat ini sudah tidak lagi bergantung pada impor untuk beberapa kebutuhan pokok utama.

“Gak impor pangan lagi, gak impor beras lagi, gak impor jagung lagi, gak impor gula lagi. Itu kita syukuri, sembari kita juga secara perlahan memperbaiki apa yang memang harus kita perbaiki,” kata Wamentan, Rabu (24/6/2026).

Pemerintah menilai capaian ini sebagai hasil dari berbagai upaya peningkatan produksi dalam negeri yang terus didorong dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono. (Dok. Ist)

Fokus perbaikan sektor pertanian

Meski sudah tidak melakukan impor pada sejumlah komoditas, pemerintah tetap melanjutkan pembenahan di sektor pertanian. Salah satunya dengan memastikan ketersediaan benih unggul, penguatan sarana produksi, hingga perbaikan jaringan irigasi di berbagai daerah.

Wamentan menekankan bahwa pemerataan pembangunan pertanian juga menjadi perhatian serius, termasuk di wilayah-wilayah yang sebelumnya belum optimal.

“Misalnya kita bagaimana membangun pertanian yang baik, seperti pertanian di tempat lain, di Papua. Membangun pertanian di Papua sebagus pertanian di provinsi lain. Irigasi kita perbaiki, kepastian benih yang baik dan berkualitas kita pastikan, dan seterusnya,” ujarnya.

Komitmen swasembada hingga 2029

Pemerintah juga menegaskan bahwa program swasembada pangan mendapat dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu fokus utama adalah revitalisasi sistem irigasi secara bertahap hingga tahun 2029.

“Presiden Prabowo tahun lalu telah merevitalisasi dengan anggaran sekitar Rp12 triliun, tahun 2025 Rp14 triliun, dan akan diteruskan sampai dengan 2029. Diharapkan pada akhir 2029, semua irigasi yang memang perlu diperbaiki dapat dituntaskan,” jelasnya.

Program ini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk memperkuat produksi pangan nasional dalam jangka panjang.

Dampak untuk produktivitas dan kesejahteraan petani

Perbaikan irigasi disebut akan memberikan dampak langsung bagi petani, terutama dalam peningkatan indeks tanam. Dengan sistem pengairan yang lebih baik, petani berpeluang meningkatkan frekuensi tanam dalam satu tahun.

“Kita harapkan dengan adanya irigasi orang bisa menanam, di musim kemarau bisa menanam. Yang tadinya menanam sekali bisa dua kali, yang dua kali jadi tiga kali. Dan itu selain negara kita mendapat produktivitas pertanian, tetapi petaninya juga semakin sejahtera karena yang tadinya panen sekali bisa panen lebih dari sekali,” pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |