Tradisi Cuci Keris Pusaka Malam 1 Suro, Ritual Jawa Sarat Makna dan Filosofi

8 hours ago 12

Tradisi cuci keris pusaka malam 1 Suro menyimpan makna budaya, sejarah, filosofi, dan cara perawatan warisan leluhur Jawa.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Rabu, Juni 17, 2026

Tradisi Cuci Keris Pusaka Malam 1 Suro, Ritual Jawa Sarat Makna dan Filosofi
Tradisi Cuci Keris Pusaka Malam 1 Suro, Ritual Jawa Sarat Makna dan Filosofi

PEWARTA.CO.ID — Malam 1 Suro selalu menjadi waktu yang memiliki tempat khusus dalam tradisi masyarakat Jawa. Bertepatan dengan awal tahun baru Islam atau 1 Muharam dalam kalender Hijriah, momen ini kerap diisi dengan berbagai kegiatan adat yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Beragam tradisi budaya digelar masyarakat untuk menyambut malam tersebut, mulai dari kirab pusaka, pawai obor, hingga ritual menjamas atau mencuci keris pusaka. Bagi sebagian masyarakat Jawa, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap peninggalan leluhur.

Keris sendiri sejak lama dikenal bukan hanya sebagai senjata tradisional. Benda pusaka ini memiliki nilai sejarah, seni, filosofi, hingga budaya yang melekat erat dalam perjalanan masyarakat Jawa.

Karena memiliki nilai yang begitu besar, keris biasanya dirawat dengan cara khusus. Salah satu bentuk perawatan yang masih dilakukan hingga kini adalah pencucian keris atau jamasan yang sering dilakukan pada malam 1 Suro.

Makna keris dalam budaya Jawa

Dalam tradisi perkerisan, keris memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu aspek eksoteris dan esoteris.

Aspek eksoteris berhubungan dengan wujud fisik keris, seperti bentuk bilah, pamor, teknik pembuatan, serta nilai keindahan dari karya tersebut. Sementara aspek esoteris berkaitan dengan filosofi, simbol, dan makna yang dipercaya terkandung dalam sebuah pusaka.

Tradisi menjamas keris dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada warisan masa lalu. Selain menjaga kondisi keris agar tetap terawat, ritual tersebut juga menjadi cara untuk mengenang para empu yang dahulu membuat pusaka dengan keahlian tinggi.

Melalui proses perawatan itu, masyarakat berusaha mempertahankan hubungan antara benda pusaka, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Perlengkapan dalam proses menjamas keris

Dalam proses mencuci keris pusaka, terdapat sejumlah perlengkapan yang biasanya digunakan. Salah satu yang utama adalah wadah berisi air yang dipakai untuk membersihkan bagian bilah keris.

Tidak jarang air tersebut diberi campuran bunga setaman. Jenis bunga yang digunakan biasanya meliputi melati, mawar merah, mawar putih, kenanga, dan kantil. Selain itu, beberapa pelaku tradisi juga menggunakan dupa atau kemenyan ketika prosesi berlangsung.

Untuk menghilangkan karat maupun kotoran yang menempel pada bilah keris, bahan alami seperti belimbing wuluh atau jeruk nipis sering dimanfaatkan.

Setelah proses pembersihan selesai, keris kemudian diberikan lapisan minyak khusus agar tetap terlindungi. Beberapa minyak yang biasa digunakan antara lain minyak cendana, minyak melati, minyak seribu bunga, hingga minyak jamas.

Tahapan terakhir biasanya dilakukan dengan membungkus kembali keris menggunakan kain mori atau kain kafan sebelum disimpan di tempat khusus.

Menurut pecinta sekaligus kolektor keris sepuh, Raden Ridwan Yusuf, tata cara tersebut merupakan bagian dari ajaran perawatan pusaka yang sudah diwariskan sejak lama.

"Itu merupakan bagian dari tradisi perawatan keris yang diwariskan secara turun-temurun oleh para empu dan leluhur," ujarnya.

Filosofi di balik pembuatan keris pusaka

Selain menjadi benda budaya, keris juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Raden Ridwan menjelaskan bahwa dahulu pembuatan keris sering disesuaikan dengan karakter serta harapan pemiliknya. Seorang petani misalnya dapat memesan keris dengan simbol yang menggambarkan harapan terhadap hasil pertanian yang baik.

Sementara itu, kalangan bangsawan maupun raja biasanya memiliki keris dengan lambang kepemimpinan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi rakyat.

Salah satu jenis keris yang dianggap memiliki nilai istimewa adalah keris berdapur Singobarong yang disebut sebagai peninggalan kerajaan. Keris tersebut mempunyai pamor dengan makna tertentu, menggambarkan keberanian, kebijaksanaan, serta harapan seorang pemimpin dalam membawa kebaikan bagi masyarakat.

Nilai filosofi inilah yang membuat keris tidak hanya dipandang dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari pesan budaya yang terkandung di dalamnya.

Keris sebagai warisan budaya Indonesia

Terlepas dari berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, keris memiliki kedudukan penting sebagai bagian dari budaya Nusantara.

Keris bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia. Pengakuan tersebut semakin memperkuat pentingnya menjaga keberadaan keris, bukan hanya sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai peninggalan sejarah.

Pelestarian keris tidak berhenti pada perawatan fisiknya saja. Pengetahuan mengenai filosofi, teknik pembuatan, serta tradisi yang menyertainya juga menjadi bagian penting yang perlu diteruskan.

Saat ini masih terdapat empu muda yang membuat keris kamardikan sebagai bentuk upaya mempertahankan keberlangsungan seni pembuatan keris di Indonesia.

Menurut Raden Ridwan, keris-keris lama yang memiliki nilai sejarah tinggi perlu dirawat dan dijaga keberadaannya agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya bangsa.

"Keris bukan hanya benda pusaka, tetapi juga warisan sejarah dan budaya yang nilainya sangat berharga bagi generasi mendatang," tutupnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |