Harga Minyak Dunia Tembus USD116, Ancaman Invasi AS ke Iran Picu Krisis Energi Global

4 hours ago 7

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Senin, Maret 30, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Harga Minyak Dunia Tembus USD116, Ancaman Invasi AS ke Iran Picu Krisis Energi Global
Ilustrassi. Tambang minyak. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada perdagangan Senin pagi, harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 3 persen hingga menembus level USD116 per barel.

Lonjakan ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua pekan terakhir, mendekati posisi puncak sebelumnya pada 19 Maret yang sempat mencapai USD119 per barel. Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Ketegangan AS-Iran dorong lonjakan harga

Kenaikan harga minyak dipicu oleh pernyataan keras dari Iran yang menyatakan kesiapan menghadapi potensi invasi darat Amerika Serikat.

Ketua parlemen Iran bahkan mengeluarkan peringatan bahwa negaranya siap menghadapi pasukan AS dengan respons agresif, termasuk menghukum sekutu regional Washington.

Situasi ini semakin memanas setelah konflik meluas di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke Israel untuk pertama kalinya dalam konflik tersebut, sementara Israel memperluas operasi militernya hingga ke wilayah Lebanon selatan.

Pasar saham Asia terpukul

Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi juga mengguncang pasar keuangan global. Indeks saham utama di Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan pagi. Indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan sama-sama anjlok lebih dari 4 persen pada pukul 1:30 GMT.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investor global mulai menghindari risiko di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin meningkat.

Selat Hormuz jadi titik krusial

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas tekanan AS dan Israel menjadi faktor utama terganggunya pasokan energi dunia. Jalur strategis tersebut diketahui mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Gangguan di selat ini telah memicu krisis energi yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Sejak konflik memanas, harga minyak tercatat telah melonjak hampir 60 persen, berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.

Banyak pemerintah kini mulai menerapkan kebijakan darurat untuk menghemat energi dan menekan dampak ekonomi yang lebih luas.

Harga diprediksi terus naik

Para analis memperkirakan tren kenaikan harga minyak masih akan berlanjut, terutama jika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal. Ketidakpastian distribusi energi global menjadi faktor utama yang terus mendorong harga ke level lebih tinggi.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur pelayaran di selat tersebut sebelum batas waktu 6 April.

Trump juga mengungkapkan optimisme terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

"Saya melihat kesepakatan di Iran, ya," kata Trump kepada wartawan di Air Force One pada Minggu malam.

"Bisa segera terjadi."

Namun, Iran menolak proposal damai yang diajukan Washington dan justru mengajukan syaratnya sendiri, termasuk tuntutan ganti rugi perang serta pengakuan atas hak Iran dalam mengontrol Selat Hormuz.

Dampak mulai dirasakan global

CEO Onyx Capital Group Greg Newman mengungkapkan bahwa dampak gangguan pasokan energi baru mulai dirasakan oleh pasar global, terutama di Eropa.

“Minyak fisik bergerak di seluruh dunia dalam siklus pemuatan, dan Eropa membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk benar-benar merasakan dampak kekurangan minyak,” kata Newman.

“Harga Brent mulai mencerminkan kenyataan, dan kami pikir akan ada kenaikan stabil dari sini menuju USD120 dan seterusnya.”

Menurutnya, skala gangguan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar.

“Tidak ada seorang pun di pasar yang pernah melihat gangguan seperti yang kita alami sekarang – premi fisik adalah yang tertinggi sepanjang masa. Masih ada anggapan bahwa dunia makro tidak cukup serius menanggapi ini, tetapi ini lebih buruk daripada apa pun yang pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

“Kenyataan akan terungkap dalam angka-angka ekonomi selama beberapa bulan mendatang.”

Upaya meredakan ketegangan

Di tengah ketegangan yang meningkat, beberapa upaya diplomatik mulai dilakukan. Iran dilaporkan telah mengizinkan sejumlah kapal dari negara tertentu untuk melintas di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut Teheran telah memberi izin kepada 20 kapal berbendera Pakistan untuk melewati jalur tersebut. Ia menilai langkah ini sebagai sinyal positif menuju deeskalasi konflik.

Meski demikian, volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik terjadi, sehingga ketidakpastian di pasar energi global diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |