Israel Lancarkan 'Operasi Skala Besar' di Gaza, Fokus Cari Sandera Terakhir Jelang Pembukaan Rafah

4 hours ago 4

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Senin, Januari 26, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Israel Lancarkan 'Operasi Skala Besar' di Gaza, Fokus Cari Sandera Terakhir Jelang Pembukaan Rafah
Israel Lancarkan 'Operasi Skala Besar' di Gaza, Fokus Cari Sandera Terakhir Jelang Pembukaan Rafah

PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Israel mengumumkan pelaksanaan operasi skala besar di Jalur Gaza pada Minggu, 25 Januari 2026, dengan tujuan menemukan sandera terakhir yang masih belum dipulangkan.

Langkah ini diambil di tengah tekanan dari Amerika Serikat dan para mediator internasional agar Israel dan Hamas segera melangkah ke tahap berikutnya dari kesepakatan gencatan senjata.

Pengumuman tersebut disampaikan bersamaan dengan rapat Kabinet Israel yang membahas kemungkinan dibukanya kembali penyeberangan utama Rafah di perbatasan Gaza–Mesir.

Agenda ini juga menyusul pertemuan utusan senior Amerika Serikat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sehari sebelumnya untuk membahas arah kebijakan lanjutan.

Ran Gvili jadi kunci lanjutan gencatan senjata

Nasib sandera terakhir, Ran Gvili, dipandang sebagai faktor krusial bagi kelanjutan fase kedua gencatan senjata yang dimediasi AS, termasuk pembukaan kembali penyeberangan Rafah. Pemulangan Gvili disebut-sebut sebagai syarat terakhir sebelum proses tersebut dapat dilanjutkan.

Kantor Perdana Menteri Israel dalam pernyataannya menegaskan komitmen tersebut.

“Setelah selesainya operasi ini, dan sesuai dengan apa yang telah disepakati dengan Amerika Serikat, Israel akan membuka penyeberangan Rafah,” dikutip AP, Senin (26/1/2026).

Meski demikian, pernyataan resmi itu tidak menyebutkan batas waktu operasi. Sejumlah pejabat militer Israel yang dikutip media setempat menyebut pencarian ini bisa berlangsung selama beberapa hari.

Pencarian intensif di Gaza Utara

Pemulangan seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, merupakan inti dari fase pertama gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober. Sebelum pengumuman terbaru ini, sandera terakhir sebelumnya telah ditemukan pada awal Desember.

Militer Israel mengungkapkan bahwa operasi kali ini dilakukan dengan tingkat kedalaman yang lebih tinggi dibanding upaya sebelumnya. Salah satu lokasi yang digeledah adalah area pemakaman di Gaza utara, dekat Yellow Line, wilayah yang menandai zona di bawah kendali Israel.

Seorang pejabat militer Israel, yang berbicara dengan syarat anonim karena operasi masih berlangsung, menyebut Gvili kemungkinan dimakamkan di kawasan Shijaiya–Tuffah, Kota Gaza. Ia juga mengatakan tim pencari melibatkan rabi dan ahli kedokteran gigi untuk membantu proses identifikasi.

Tekanan keluarga dan sinyal AS

Keluarga Ran Gvili diketahui mendesak pemerintahan Netanyahu agar tidak melanjutkan fase kedua gencatan senjata sebelum jenazah Gvili dipulangkan. Namun, di sisi lain, tekanan internasional terus meningkat. Pemerintahan Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir menyatakan bahwa fase kedua gencatan senjata pada dasarnya sudah mulai berjalan.

Israel sendiri berulang kali menuduh Hamas sengaja mengulur waktu dalam proses pemulihan sandera terakhir. Hamas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataan resminya pada Minggu, kelompok itu mengatakan telah menyerahkan seluruh informasi yang mereka miliki terkait keberadaan jenazah Gvili, sembari menuding Israel menghambat pencarian di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militernya.

Kompleks UNRWA di Yerusalem Timur dibakar

Di tengah eskalasi tersebut, insiden lain terjadi di Yerusalem Timur. Kompleks markas badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) yang sebelumnya telah ditutup dilaporkan dibakar pada malam hari, hanya beberapa hari setelah buldoser Israel merusak sebagian area kompleks tersebut.

Belum diketahui siapa pihak yang memicu kebakaran. Namun, Direktur UNRWA untuk Tepi Barat, Roland Friedrich, mengatakan pemukim Israel terlihat menjarah perabotan dari bangunan utama pada malam kejadian. Ia juga menyebut adanya banyak lubang yang dibuat di pagar kompleks tersebut.

Departemen pemadam kebakaran Israel menyatakan telah mengerahkan tim untuk mencegah api meluas. Pada Mei 2024 lalu, UNRWA sudah mengumumkan penutupan kompleks tersebut setelah insiden pembakaran pagar oleh pemukim.

Kecaman UNRWA dan latar belakang ketegangan

Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengecam insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “serangan terbaru terhadap PBB dalam upaya berkelanjutan untuk membongkar status pengungsi Palestina.”

UNRWA memiliki mandat memberikan bantuan dan layanan bagi sekitar 2,5 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, serta sekitar 3 juta pengungsi lainnya di Suriah, Yordania, dan Lebanon. Namun, operasional badan ini semakin terbatas sejak tahun lalu, setelah Knesset Israel mengesahkan undang-undang yang memutus hubungan dan melarang UNRWA beroperasi di wilayah yang dikategorikan sebagai Israel, termasuk Yerusalem Timur.

Israel selama bertahun-tahun menuding UNRWA telah disusupi Hamas dan menuduh sejumlah pegawainya terlibat dalam serangan tahun 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Gaza. Pimpinan UNRWA menyatakan telah mengambil tindakan cepat terhadap karyawan yang dituduh terlibat, serta membantah keras tuduhan bahwa lembaga tersebut menoleransi atau bekerja sama dengan Hamas.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |