Prabowo Mengaku Siap Keluar dari BoP Jika Tak Dukung Kemerdekaan Palestina

5 hours ago 4

Pewarta Network

Pewarta Network

Jumat, Maret 20, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Prabowo Mengaku Siap Keluar dari BoP Jika Tak Dukung Kemerdekaan Palestina
Prabowo Mengaku Siap Keluar dari BoP Jika Tak Dukung Kemerdekaan Palestina

PEWARTA.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikap Indonesia terkait keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).

Ia menyatakan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut bukan tanpa alasan, melainkan melalui pertimbangan matang dengan tujuan utama mendukung kemerdekaan penuh Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam sebuah diskusi bersama pakar dan jurnalis senior yang berlangsung di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seperti dikutip pada Jumat (20/3/2026).

Awal mula masuk BoP

Dalam pemaparannya, Prabowo mengungkap bahwa awal keterlibatan Indonesia dalam BoP berakar dari momentum Sidang Umum PBB pada 23 September 2025.

Saat itu, ia secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong implementasi solusi dua negara (two state solution).

Tak lama setelah pidato tersebut, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim yang tergabung dalam Group of Eight—yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir—diundang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pertemuan itu, Trump meminta dukungan terhadap 21-point plan, sebuah proposal yang ditujukan untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza. Rencana tersebut dipaparkan secara rinci oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.

Prabowo mengaku mencermati seluruh poin dalam proposal tersebut, namun perhatian utamanya tertuju pada poin ke-19 dan ke-20. Kedua poin itu, menurutnya, membuka peluang bagi Palestina untuk menjadi negara merdeka yang mampu menentukan masa depannya sendiri.

Selain itu, terdapat pula komitmen Amerika Serikat untuk memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina guna menciptakan kehidupan berdampingan secara damai.

Menurut Prabowo, substansi tersebut selaras dengan sikap Indonesia yang sejak lama mendorong solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian jangka panjang.

"Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan (pimpinan negara mayoritas Muslim) diskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi kita bilang, kita dukung," ujar Prabowo.

Dalam forum itu, para pemimpin negara kemudian menunjuk Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, sebagai juru bicara untuk menyampaikan sikap mereka kepada Trump.

“We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel,” kata Prabowo mengingat kembali momen tersebut.

Tak lama setelah pertemuan tersebut, muncul gagasan pembentukan BoP yang kemudian diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Negara-negara dalam Group of Eight kembali melakukan pembahasan terkait keikutsertaan mereka dalam dewan tersebut.

Hasilnya, mereka menilai bahwa bergabung dalam BoP akan membuka peluang lebih besar untuk memengaruhi kebijakan internasional agar berpihak pada Palestina. Langkah ini dinilai lebih strategis dibandingkan berada di luar forum.

"Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina,” ujarnya.

“Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk," paparnya.

Siap keluar BoP jika tak dukung kemerdekaan Palestina

Meski telah bergabung, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan ragu untuk keluar dari BoP jika forum tersebut tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional maupun perjuangan kemerdekaan Palestina.

Ia bahkan menyebut keputusan untuk keluar bisa diambil secara mandiri tanpa harus menunggu kesepakatan dari negara lain dalam Group of Eight.

“Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita menilai kita habis waktu, habis energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar," tambahnya.

Prabowo menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari konsistensi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sejak dahulu.

"Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina," tuturnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |