Gunung Bromo kebakaran hingga 176,20 hektare. Ribuan liter air dijatuhkan dari udara untuk memadamkan api yang sulit dijangkau.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Senin, Agustus 10, 2026
![]() |
| Petugas melakukan operasi udara dengan menjatuhkan ribuan liter air untuk menangani kebakaran Gunung Bromo. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, masih dalam penanganan tim gabungan. Luas area terdampak diperkirakan telah mencapai 176,20 hektare, sementara pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara.
Kebakaran yang mulai terjadi sejak Senin (3/8) itu mencakup kawasan Gunung Bromo Watu Gede di Kabupaten Probolinggo serta wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jantur di Kabupaten Malang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan luas lahan yang terbakar masih dalam pendataan. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai korban jiwa.
“Luas lahan yang terbakar hingga saat ini diperkirakan mencapai sekitar 176,20 hektare dan masih dalam proses pendataan. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Minggu (8/9/2026).
Titik api masih dipantau
Abdul Muhari yang akrab disapa Aam menyampaikan, berdasarkan pembaruan penanganan hingga pukul 21.30 WIB, personel gabungan masih bersiaga di kawasan JLKT.
Tim berada di lokasi tersebut untuk menangani kobaran api yang mulai mendekati ruas jalan. Penanganan juga dilakukan terhadap titik api yang sebelumnya muncul di jalur Jemplang menuju Watu Gede, wilayah Kabupaten Malang.
Titik api di jalur tersebut telah berhasil dikondisikan oleh tim yang bekerja dari darat. Dengan demikian, tidak lagi ditemukan titik api di lokasi tersebut.
Meski begitu, pemantauan masih dilakukan karena terdapat hot spot yang mengeluarkan asap di kawasan Pusung Ledok Bedor.
“Adapun hot spot masih terpantau mengeluarkan asap di area Pusung Ledok Bedor. Kondisi cuaca di wilayah Bromo terpantau cerah dengan kecepatan angin sedang. Tim gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan arah atau penyebaran api akibat kondisi medan dan angin,” katanya.
Dua helikopter dikerahkan
Upaya pemadaman tidak hanya mengandalkan personel di lapangan. Tim gabungan juga menjalankan operasi udara untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi melalui jalur darat.
Personel yang terlibat berasal dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, TNBTS, Polhut, Perhutani, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat.
Di darat, pemadaman dilakukan menggunakan satu unit truk pemadam. Petugas juga menerapkan metode manual gepyok dan menggunakan sprayer untuk membantu mengendalikan api.
“Untuk mempercepat penanganan pada area yang sulit dijangkau melalui jalur darat, operasi udara juga dilakukan dengan mengerahkan dua unit helikopter. Satu helikopter merupakan dukungan dari Provinsi Jawa Timur melalui Puspenerbal TNI AL dengan kapasitas angkut air 1.000 liter, sedangkan satu helikopter lainnya merupakan dukungan BNPB dengan kapasitas angkut air 1.000 liter,” ujar Aam.
Dengan dua helikopter tersebut, kapasitas angkut air dalam satu kali operasi mencapai 2.000 liter. Pengerahan armada udara ditujukan untuk mempercepat pemadaman pada area yang sulit dijangkau dari darat.
BNPB juga telah berkoordinasi dengan Danlanud untuk menyiapkan posko sekaligus mendukung pelaksanaan operasi udara di Lanud Abdulrachman Saleh.
Selain itu, BPBD Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan berupa dukungan logistik dan personel untuk mempercepat penanganan kebakaran di kawasan Bromo.
Medan terjal menjadi kendala
Proses pemadaman masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya adalah kondisi lereng Kaldera Bromo yang terjal sehingga menyulitkan pergerakan petugas pemadam.
Faktor angin juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah dan penyebaran api. Ditambah lagi, sejumlah titik kebakaran berada di kawasan hutan dengan akses yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kondisi medan tersebut membuat operasi udara menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Helikopter dapat digunakan untuk menjangkau area yang tidak bisa ditangani secara maksimal menggunakan metode pemadaman dari darat.
Sebagian kawasan wisata Bromo ditutup
Di tengah penanganan kebakaran, Balai Besar TNBTS juga mengambil langkah pengamanan dengan menutup sementara sebagian kawasan wisata Gunung Bromo.
Penutupan diberlakukan sejak 3 Agustus pukul 22.00 WIB dan berlangsung hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Akses wisata Gunung Bromo dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang termasuk dalam jalur yang ditutup sementara.
Langkah tersebut dilakukan seiring proses penanganan kebakaran yang masih berlangsung di kawasan Bromo.
“BNPB bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan dan penanganan secara terpadu, baik melalui operasi darat maupun udara, untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya,” tandasnya.



















































