Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS, Ini 4 Faktor yang Memicu Pelemahan Kurs Hari Ini

18 hours ago 8

Rupiah tembus Rp18.014 per dolar AS dipengaruhi konflik AS-Iran, Selat Hormuz, imbal hasil obligasi AS, dan penantian notulen FOMC.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Juli 12, 2026

Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS, Ini 4 Faktor yang Memicu Pelemahan Kurs Hari Ini
Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS, Ini 4 Faktor yang Memicu Pelemahan Kurs Hari Ini

PEWARTA.CO.ID — Rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 34 poin atau sekitar 0,19 persen ke posisi Rp18.014 per dolar AS.

Pelemahan kurs hari ini tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

“Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai ‘biaya berat’ atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

1. Eskalasi konflik di Selat Hormuz

Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat mencabut kebijakan yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional. Langkah tersebut dinilai dapat memperketat pasokan minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan.

2. Laporan serangan terhadap kapal

Ketidakpastian juga bertambah setelah muncul laporan bahwa Iran menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pekan ini. Peristiwa itu memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

“Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” ujar dia.

3. Kenaikan imbal hasil obligasi AS

Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh pergerakan pasar keuangan Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen.

Meski demikian, pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan Juli relatif kecil. Sementara itu, berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September mendekati 60 persen.

4. Pasar menunggu notulen rapat FOMC

Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada publikasi notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) periode Juni yang dijadwalkan rilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.

Dokumen tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan bank sentral Amerika Serikat terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan.

“Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed,” pungkas Ibrahim.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |