12 tewas dan 8 hilang akibat banjir serta tanah longsor di Filipina setelah monsun dan dua siklon menerjang sejumlah wilayah.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Selasa, Agustus 11, 2026
![]() |
| Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Filipina hingga menyebabkan 12 orang tewas dan 8 lainnya hilang. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Filipina setelah cuaca ekstrem menerjang negara tersebut. Sedikitnya 12 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara delapan lainnya masih dalam pencarian.
Bencana tersebut terjadi akibat kombinasi monsun barat daya dengan dampak Siklon Tropis Kujira dan Topan Dolphin yang melanda Filipina.
Menurut laporan The Philippine Daily Inquirer, Asisten Sekretaris Kantor Pertahanan Sipil atau Office of Civil Defense (OCD), Laurence Mina, menyebut 11 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian bencana tersebut.
Mina menjelaskan, sejumlah penyebab kematian yang telah dilaporkan berkaitan langsung dengan kondisi bencana. Di antaranya tanah longsor, longsoran batu, pohon tumbang, sengatan listrik, hingga korban yang tenggelam.
Ratusan ribu orang terdampak
Dampak bencana tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan laporan GMA News Online, hampir 586.000 orang terdampak di sembilan wilayah yang mencakup 33 provinsi.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat proses evakuasi terus dilakukan di sejumlah daerah yang dianggap berisiko.
Hingga Senin, 10 Agustus 2026, sebanyak 4.866 orang telah dievakuasi sebagai langkah pencegahan. Evakuasi tersebut berlangsung di Wilayah I, Wilayah III, Calabarzon, dan Mimaropa.
Puluhan ribu warga mengungsi
Selain warga yang dievakuasi secara preventif, lebih dari 32.800 orang kini harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sebagian dari mereka berada di pusat-pusat evakuasi yang disediakan, sedangkan lainnya memilih tinggal sementara di rumah kerabat.
Situasi tersebut menunjukkan luasnya dampak banjir dan tanah longsor yang terjadi setelah kombinasi monsun barat daya, Siklon Tropis Kujira, dan Topan Dolphin menerjang sejumlah wilayah Filipina.



















































