Waduh! 9.000 Pekerja di 10 Perusahaan Terancam PHK Massal

2 hours ago 2

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Selasa, Mei 26, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Waduh! 9.000 Pekerja di 10 Perusahaan Terancam PHK Massal
Ilustrasi: PHK karyawan. (Dok. Canva)

PEWARTA.CO.ID — Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK kembali menghantui sektor industri nasional. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkapkan sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan berpotensi kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan mendatang.

Situasi ini disebut bukan lagi sekadar prediksi. Sejumlah perusahaan di berbagai daerah dilaporkan sudah mulai melakukan efisiensi hingga penutupan usaha yang berdampak langsung pada nasib ribuan buruh.

Wakil Presiden KSPI Kahar S Cahyono mengatakan, tanda-tanda badai PHK sebenarnya telah diperingatkan sejak beberapa waktu lalu. Namun kini, ancaman tersebut mulai benar-benar terjadi di lapangan.

"Saat itu kami memperkirakan dalam tiga bulan ke depan akan terjadi PHK terhadap sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan. Hari ini, ancaman itu bukan lagi prediksi. Gelombang PHK sudah nyata terjadi,” kata Kahar dalam keterangan resminya di Jakarta.

Sejumlah perusahaan mulai lakukan PHK

KSPI mencatat beberapa perusahaan sudah melakukan pemutusan hubungan kerja sepanjang Mei 2026. Salah satu kasus terbaru terjadi di PT Xacti Indonesia yang berlokasi di Depok, Jawa Barat.

Perusahaan tersebut dilaporkan tutup dan menyebabkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan.

Tak hanya itu, PHK juga terjadi di wilayah Banten, khususnya Kabupaten Serang. PT Nikomas Gemilang disebut melakukan PHK terhadap 279 pekerja. Sementara PT Parkland World Indonesia 2 memangkas 223 tenaga kerja dan PT Sinhwa Bis memberhentikan 176 pekerja.

Di Jawa Timur, sektor otomotif turut terdampak. Showroom dan bengkel Toyota Asri Motor yang dikelola PT dan CV dilaporkan telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja.

"Beberapa waktu lalu kami sudah mengingatkan bahwa di bawah bayang-bayang perang dan ketidakpastian ekonomi global, Indonesia menghadapi ancaman PHK besar-besaran," katanya.

Industri manufaktur disebut sedang tertekan

Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh Said Iqbal menilai maraknya PHK menjadi gambaran lemahnya daya tahan industri dalam negeri menghadapi tekanan ekonomi global.

Menurutnya, sektor manufaktur saat ini menghadapi situasi berat akibat pasar internasional yang belum stabil. Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan memilih langkah efisiensi hingga akhirnya tutup atau mengalami pailit.

Meski demikian, Said Iqbal memastikan pekerja PT Xacti Indonesia telah mendapatkan pendampingan dalam proses penyelesaian hak-hak mereka.

Ia menyebut pekerja yang terkena PHK memperoleh kompensasi berupa pesangon dua kali ketentuan undang-undang ketenagakerjaan, termasuk uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak lainnya.

Ribuan pekerja di Karawang ikut terdampak

Gelombang PHK juga terjadi di Karawang, Jawa Barat. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 1.323 pekerja kehilangan pekerjaan dengan berbagai penyebab.

Sebagian di antaranya dipicu penutupan perusahaan yang berdampak pada 295 pekerja. Selain itu, efisiensi perusahaan menyebabkan 294 orang terkena PHK, sementara faktor disharmoni manajemen turut menjadi alasan lain.

Kondisi serupa juga meluas ke kawasan Serang dan Tangerang, Banten. Industri sepatu dan tekstil menjadi sektor yang paling terdampak oleh perlambatan ekonomi.

Beberapa perusahaan seperti PT Sinhwa Bis, PT Lung Cheong, dan PT PWI dilaporkan telah merumahkan ratusan pekerja dalam beberapa waktu terakhir.

Bahkan PT Nikomas Gemilang yang dikenal sebagai salah satu produsen sepatu besar mulai melakukan efisiensi dengan memberhentikan 279 pekerja sepanjang Mei 2026.

Permintaan kendaraan melemah

Sektor otomotif juga ikut terpukul akibat menurunnya daya beli masyarakat. Industri ini dinilai sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga pelemahan nilai tukar rupiah ikut memperberat kondisi usaha.

Akibatnya, permintaan kendaraan di pasar domestik menurun dan memicu penutupan sejumlah unit bisnis di daerah.

"Di Sidoarjo, CV Asri yang bergerak di bidang showroom mobil dan perbengkelan sudah mem-PHK 200 orang karena tidak kuat bertahan akibat permintaan mobil yang rendah, yang dipicu kenaikan harga jual imbas melemahnya Rupiah terhadap dolar," jelasnya.

Tiga penyebab utama badai PHK

KSPI mengungkap ada tiga faktor utama yang memicu meningkatnya ancaman PHK massal di berbagai sektor industri.

Pertama, konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang menyebabkan harga bahan bakar industri melonjak.

Kedua, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga biaya produksi meningkat karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor.

Ketiga, lesunya pasar global yang berdampak langsung terhadap kinerja ekspor nasional.

KSPI memprediksi ancaman PHK massal masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan apabila kondisi ekonomi belum menunjukkan perbaikan signifikan.

"Dalam tiga bulan ke depan, diperkirakan gelombang PHK masih terus berlanjut di sepuluh perusahaan lintas provinsi dengan potensi 9.000 buruh terdampak karena faktor kenaikan BBM industri dan harga bahan baku impor yang melambung," tegas Said Iqbal.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |