China dituding membangun infrastruktur energi bersih di Tibet yang juga dapat menopang logistik dan kehadiran militer di dekat India.
![]()
Oleh Redaksi PEWARTA
Selasa, Agustus 25, 2026
![]() |
| Infrastruktur energi bersih China di Tibet disebut memiliki fungsi ganda yang dapat mendukung kebutuhan sipil dan militer. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Pembangunan energi bersih di Daerah Otonomi Tibet, China, mendapat sorotan karena dinilai memiliki fungsi ganda yang berpotensi mendukung kepentingan militer Beijing di kawasan perbatasan India-China.
Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air, surya, angin, mikrogrid, serta jaringan transmisi tegangan ultra-tinggi (UHV) dikembangkan di dataran tinggi Tibet. Infrastruktur tersebut secara resmi dipromosikan sebagai bagian dari pengembangan energi bersih, tetapi studi dan analisis geospasial yang dikutip dalam sumber menilai jaringan itu juga dapat menopang kehadiran militer jangka panjang Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Kondisi tersebut memunculkan istilah "basis kekuatan dataran tinggi" untuk menggambarkan bagaimana infrastruktur energi dan keamanan di Tibet semakin beririsan.
Jaringan energi menjangkau kawasan perbatasan
Secara resmi, Beijing menempatkan Tibet sebagai kawasan percontohan energi hijau nasional. Pengembangan tersebut antara lain berlandaskan Rencana Lima Tahun ke-14 dan strategi pembangunan basis tenaga air serta surya berskala besar.
Administrasi Energi Nasional RRC mencatat jaringan listrik Tibet telah dikembangkan menjadi jaringan terpadu 500 kilovolt (kV). Sistem tersebut terhubung melalui saluran arus searah ±400 kV ke Qinghai serta saluran 500 kV menuju Sichuan untuk mendukung pengembangan basis energi bersih dan transmisi listrik jarak jauh.
Pada 2024, lebih dari 99 persen listrik di Tibet disebut berasal dari sumber energi bersih. Sejak 2015, program ekspor listrik Tibet juga telah menyalurkan hampir 18 miliar kilowatt-jam (kWh) ke wilayah China bagian timur.
Beijing merencanakan sedikitnya 10 koridor ekspor UHV hingga 2050. Sejumlah proyek yang disebut dalam sumber antara lain jalur Jinshang–Hubei ±800 kV dan jalur UHV Tibet–Guangdong ±800 kV.
Bendungan Medog dan kepentingan strategis
Salah satu proyek yang paling banyak mendapat perhatian adalah pembangunan bendungan raksasa di Sungai Yarlung Tsangpo. Aliran sungai tersebut kemudian dikenal sebagai Sungai Siang dan Brahmaputra di India serta Sungai Jamuna di Bangladesh.
Proyek itu berada di sekitar Medog, yang disebut hanya berjarak beberapa puluh kilometer dari Line of Actual Control (LAC) dengan India. Kawasan tersebut merupakan salah satu titik sensitif dalam hubungan kedua negara.
Dalam artikel China yang dikutip sumber, proyek Medog disebut sebagai "proyek strategis nasional yang komprehensif" dengan dimensi ketahanan energi, pembangunan wilayah, ekologi, pertahanan nasional, dan geopolitik.
Perkiraan investasi proyek tersebut disebut mencapai 1,2 triliun yuan. Infrastruktur jalan yang berkaitan dengan bendungan juga diklaim dapat memangkas waktu pengerahan peralatan berat PLA di kawasan tersebut hingga 70 persen.
Sumber juga menyebut pembangkit itu dirancang agar dapat berfungsi sebagai pusat pasokan listrik bagi jaringan pertahanan perbatasan. Proyek tersebut dikaitkan dengan rencana pembangunan lima kota perbatasan baru yang membentuk sabuk pertahanan dengan kedalaman 30 kilometer.
Desa perbatasan ikut dielektrifikasi
Pengembangan energi di Tibet tidak berhenti pada pembangkit berskala besar. Beijing juga memperluas jaringan listrik, jalan, dan komunikasi ke permukiman yang berada di kawasan perbatasan.
Pada periode 2025–2026, statistik resmi China menyebut telah dibangun 624 desa perbatasan, akses jalan menuju seluruh wilayah kabupaten dan kota kecil di perbatasan, serta jaringan listrik utama ke setiap kota kecil di kawasan tersebut. Cakupan broadband dan jaringan 4G juga disebut hampir 100 persen di sepanjang perbatasan Tibet yang membentang sekitar 4.000 kilometer.
Media pemerintah China menggambarkan pembangunan di desa seperti Pangda di Yadong dan Yumai di Shannan sebagai upaya mengakhiri keterpencilan melalui listrik, jalan, rumah modern, pemanas, dan komunikasi.
Namun, pengembangan tersebut juga secara terbuka dikaitkan dengan penguatan pertahanan perbatasan. Pemerintah China menempatkan pembangunan kawasan perbatasan dalam kerangka kebijakan "perbatasan yang kuat".
Mikrogrid menopang wilayah terpencil
Fungsi strategis energi juga terlihat dari pengembangan mikrogrid di kawasan terpencil. Pada 2024, kelompok investasi negara Tibet membangun mikrogrid tenaga surya dan penyimpanan energi di wilayah Diyà, Kabupaten Zhada, Prefektur Ngari, yang berhadapan dengan Uttarakhand, India.
Sistem tersebut menggabungkan pembangkit fotovoltaik, baterai, transmisi, dan distribusi untuk menyediakan listrik selama 24 jam bagi penduduk. Teknologi ini ditujukan mengatasi persoalan suhu ekstrem, ketinggian, serta akses jalan yang dapat tertutup salju.
Proyek serupa dikembangkan di kawasan Caipeng di Shannan dan Kabupaten Gaize di Ali. Infrastruktur tersebut diproyeksikan memperkuat keandalan listrik bagi puluhan ribu rumah tangga di wilayah tengah Tibet.
Pada saat yang sama, PLA juga telah mengembangkan sistem energi terbarukan untuk pos-pos perbatasannya. Laporan yang dikutip sumber menyebut lebih dari 700 pos perbatasan telah terhubung dengan jaringan listrik nasional dan memperoleh pasokan energi terbarukan pada awal 2024.
Pasokan tersebut meningkatkan akses terhadap kebutuhan seperti air, pemanas, fasilitas mandi, oksigen, serta peralatan yang membutuhkan daya besar. Sistem mikrogrid berbasis tenaga surya, angin, air, dan penyimpanan energi juga disebut dapat menggantikan ketergantungan sejumlah pos terhadap bahan bakar diesel.
Analisis melihat hubungan energi dan keamanan
Studi geospasial dari Takshashila Institution menunjukkan peningkatan kapasitas energi terbarukan Tibet dalam beberapa tahun terakhir. Sumber tersebut mencatat penambahan sekitar 700 MW pada 2023, 860 MW pada 2024, dan perkiraan 2.600 MW pada 2025.
Analisis itu menyoroti sejumlah ladang surya di sekitar Shigatse dan Kabupaten Gar yang lokasinya berdekatan dengan infrastruktur serta fasilitas militer. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan hubungan yang semakin erat antara pengembangan energi dan kepentingan keamanan.
Dalam seminar yang disponsori Institute of Chinese Studies di Delhi, Tibet juga disebut sebagai "basis energi dataran tinggi". Pembangkit surya, pembangkit listrik tenaga air, dan jaringan UHV dinilai berada dekat koridor serta pangkalan militer utama.
Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dikutip sumber menggambarkan pendekatan tersebut sebagai "strategi infrastruktur zona abu-abu". Infrastruktur seperti bendungan, jalan, jalur kereta api, dan sistem digital dinilai dapat menjadi instrumen daya tawar terhadap negara tetangga tanpa harus memicu konflik terbuka.
Bagi India, pembangunan tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait sungai lintas batas, terutama Yarlung Tsangpo. Selain persoalan aliran air, pengembangan industri energi berskala besar di dataran tinggi juga disebut berpotensi memengaruhi lingkungan dan kondisi gletser.
Pada saat yang sama, elektrifikasi desa perbatasan, mikrogrid, dan pembangunan fasilitas militer memungkinkan terciptanya permukiman permanen serta dukungan logistik dan pengawasan sepanjang tahun.
Dengan demikian, pembangunan energi bersih di Tibet memiliki dua sisi sebagaimana digambarkan dalam sumber. Infrastruktur tersebut dapat meningkatkan akses listrik dan kehidupan masyarakat, tetapi pada saat bersamaan dinilai berpotensi memperkuat ketahanan logistik serta kehadiran militer China di kawasan strategis yang berbatasan dengan India.



















































