Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, April 15, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Drone MQ-4C Triton Milik AS Jatuh di Selat Hormuz, Harganya Capai Rp4 Triliun |
PEWARTA.CO.ID — Angkatan Laut Amerika Serikat atau US Navy mengonfirmasi kehilangan satu unit drone pengintai canggih jenis MQ-4C Triton di kawasan Selat Hormuz.
Insiden ini terjadi secara mendadak setelah pesawat tanpa awak tersebut menghilang dari sistem pelacakan penerbangan daring saat menjalankan misi di wilayah Teluk Persia pada pekan lalu.
Berdasarkan laporan ringkasan kecelakaan terbaru dari Komando Keselamatan Angkatan Laut yang dirilis pada Rabu (15/4/2026), drone tersebut dinyatakan hilang sejak 9 April di lokasi yang tidak dipublikasikan.
Hingga kini, penyebab pasti jatuhnya pesawat nirawak tersebut masih belum terungkap dan dikategorikan sebagai kecelakaan Kelas A.
Kronologi hilangnya drone
MQ-4C Triton diyakini mengalami insiden saat dalam perjalanan kembali menuju pangkalan utamanya di Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella, Italia, usai menyelesaikan misi pengawasan di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelum menghilang, sistem transponder drone sempat memancarkan kode darurat 7700, yang dalam dunia penerbangan menandakan kondisi darurat umum.
Selain itu, terdapat indikasi bahwa drone tersebut juga sempat mengirimkan kode 7400, yang biasanya digunakan untuk menunjukkan hilangnya komunikasi antara pesawat dan pengendali di darat.
Namun, kedua kode tersebut tidak memberikan informasi detail mengenai penyebab atau tingkat keparahan masalah yang dialami drone saat itu.
Nilai fantastis dan klasifikasi kecelakaan
Insiden ini masuk dalam kategori kecelakaan Kelas A, yaitu klasifikasi tertinggi dalam laporan kecelakaan militer. Kategori ini mencakup kerugian materi lebih dari USD2 juta, korban jiwa, atau cedera permanen.
Nilai drone MQ-4C Triton sendiri tergolong sangat tinggi. Berdasarkan dokumen anggaran Angkatan Laut AS, harga satu unitnya mencapai lebih dari USD238 juta atau sekitar Rp4,08 triliun. Dengan nilai sebesar itu, masuknya insiden ini ke dalam kategori Kelas A dinilai tidak mengejutkan.
Hingga tahun 2025, Angkatan Laut AS diketahui telah mengoperasikan sekitar 20 unit drone Triton dan berencana menambah tujuh unit lagi dalam waktu mendatang.
Lokasi jatuh masih misterius
Lokasi pasti jatuhnya drone mata-mata AS hingga kini belum dapat dipastikan. Data terakhir menunjukkan bahwa pesawat tersebut berada di wilayah udara internasional di atas Teluk Persia dan sempat mengarah ke wilayah Iran. Meski demikian, belum ada bukti yang mengonfirmasi bahwa drone tersebut jatuh di teritori Iran.
Upaya pencarian dan pemulihan juga belum dijelaskan secara rinci oleh pihak militer AS. Tidak diketahui apakah operasi pengangkatan puing-puing telah dilakukan atau masih dalam tahap perencanaan.
Risiko kebocoran teknologi militer
MQ-4C Triton merupakan salah satu drone pengintai paling canggih yang dimiliki AS. Pesawat ini dilengkapi dengan radar multi-mode active electronically scanned array (AESA), kamera elektro-optik dan inframerah, serta sistem intelijen elektronik yang mampu mengumpulkan data secara pasif.
Jika komponen penting dari drone ini berhasil ditemukan oleh pihak lain dalam kondisi utuh, hal tersebut berpotensi menimbulkan kerugian intelijen yang besar bagi Amerika Serikat.
Meski tidak ada indikasi bahwa insiden ini disebabkan oleh serangan musuh, keberadaan puing-puing drone tetap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda, khususnya oleh Iran yang berada di kawasan tersebut.
Jejak insiden serupa di masa lalu
Peristiwa ini mengingatkan pada insiden pada 2019, ketika Iran berhasil menembak jatuh drone pengintai RQ-4 Broad Area Maritime Surveillance-Demonstrator (BAMS-D) milik Angkatan Laut AS di atas Teluk Oman. Saat itu, Iran bahkan sempat memamerkan sisa-sisa drone sebagai bentuk klaim keberhasilan.
BAMS-D sendiri merupakan pendahulu dari MQ-4C Triton. Keduanya dikembangkan dari platform RQ-4 Global Hawk, dengan Triton yang telah dioptimalkan untuk misi pengawasan maritim jarak jauh dalam durasi panjang.
Hingga kini, investigasi terkait jatuhnya drone MQ-4C Triton masih terus berlangsung, sementara berbagai spekulasi mengenai penyebab insiden tersebut belum dapat dipastikan secara resmi.



















































