Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, Februari 18, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Unram Tegas Bantah Isu Mahasiswa di Balik Video Teh Pucuk Viral dan KKN 17 Menit, Siapa Sosok Pemeran Aslinya? |
PEWARTA.CO.ID — Jagat media sosial kembali diramaikan dengan kemunculan kata kunci “Teh Pucuk viral” dan “KKN 17 menit” yang ramai diburu warganet di platform seperti TikTok hingga Telegram.
Pencarian masif ini memicu spekulasi liar, termasuk tudingan yang menyeret nama mahasiswa Universitas Mataram (Unram).
Menanggapi isu yang kian meluas, pihak kampus angkat bicara dan membantah tegas adanya keterlibatan mahasiswa mereka dalam video yang dimaksud. Universitas Mataram memastikan informasi yang berkembang di media sosial tidak sesuai fakta dan berpotensi menyesatkan publik.
MASIH TERKAIT!
Awal mula narasi “Teh Pucuk Viral” dan “KKN 17 Menit”
Isu ini bermula dari potongan video pendek yang memperlihatkan adegan di dalam sebuah kamar. Dalam cuplikan tersebut, tampak jelas sebuah botol minuman kemasan yang kemudian dijadikan pemicu narasi dengan label “Teh Pucuk”. Kata kunci itu sengaja dipakai untuk menarik perhatian dan meningkatkan rasa penasaran publik.
Tak berhenti di situ, narasi berkembang dengan mengaitkannya pada kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Embel-embel durasi “17 menit” pun ditambahkan guna memperkuat kesan sensasional dan memancing klik.
Strategi semacam ini bukan hal baru di dunia maya. Penggunaan kata kunci populer dan durasi tertentu kerap dipakai untuk menggiring opini serta memperluas penyebaran konten yang belum tentu benar.
RELEVAN DIBACA!
Link Teh Pucuk vs KKN 17 Menit Heboh di Telegram, Ini Fakta Sebenarnya yang Harus Diketahui
Satgas PPKS Unram ambil sikap
Merespons tudingan yang beredar, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Universitas Mataram bergerak cepat melakukan penelusuran internal. Hasilnya, kampus memastikan bahwa sosok dalam video tersebut bukan mahasiswa Unram.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, video tersebut sebenarnya sudah beredar sejak September 2025 dan bukan merupakan peristiwa baru. Lokasi dalam video pun dipastikan tidak berada di Lombok maupun wilayah NTB lainnya.
Nama seorang mahasiswi, Anis Januar Putri, sempat ikut terseret dalam pusaran isu. Namun yang bersangkutan telah memberikan klarifikasi tegas dan membantah tuduhan tersebut. Ia juga menyoroti adanya perbedaan fisik mencolok antara dirinya dan sosok dalam video, sehingga tudingan yang diarahkan kepadanya dinilai tidak berdasar.
Pihak kampus menegaskan komitmennya untuk melindungi mahasiswa dari tuduhan tanpa bukti yang dapat merusak reputasi dan masa depan akademik mereka.
MENARIK JUGA DIBACA!
Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Anis Januar Putri Bantah Dirinya Sosok Pemeran Perempuan
Waspadai link palsu dan ancaman siber
Di balik ramainya perbincangan mengenai “Teh Pucuk viral” dan “KKN 17 menit”, terdapat ancaman lain yang tak kalah serius, yakni kejahatan siber. Banyak tautan yang beredar dengan klaim sebagai “link asli” justru berpotensi membahayakan pengguna.
Beberapa modus yang kerap ditemukan antara lain:
- Phishing atau pencurian data pribadi, di mana pengguna diminta memasukkan username dan password media sosial sebelum bisa mengakses video.
- Iklan berlebihan dan jebakan situs tidak relevan, termasuk promosi judi online.
- Malware, yang dapat menginfeksi perangkat dan mencuri data sensitif.
Fenomena viral semacam ini kerap dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan dari rasa penasaran publik. Pengguna internet yang kurang waspada bisa menjadi korban tanpa menyadarinya.
JANGAN LEWATKAN!
Pola lama yang terus berulang
Penggunaan durasi seperti “13 menit” atau “17 menit” dalam judul konten sensasional sejatinya merupakan pola lama. Strategi ini dirancang untuk memicu efek Fear of Missing Out (FOMO), sehingga orang terdorong untuk segera mencari dan membagikan konten tersebut tanpa verifikasi.
Sayangnya, pola ini seringkali berdampak pada rusaknya reputasi individu yang dituding tanpa dasar kuat. Dalam banyak kasus, nama yang terseret mengalami tekanan sosial dan psikologis akibat pemberitaan yang belum tentu benar.
Kasus yang menyeret nama mahasiswa Unram ini menjadi pengingat bahwa literasi digital masyarakat masih perlu diperkuat. Penyebaran informasi tanpa klarifikasi dapat menimbulkan konsekuensi serius, baik bagi individu maupun institusi.
Pentingnya bijak bermedia sosial
Peristiwa ini menunjukkan betapa cepatnya informasi—baik benar maupun salah—menyebar di era digital. Kampus telah memberikan klarifikasi resmi dan memastikan tidak ada mahasiswa yang terlibat dalam video tersebut.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada narasi sensasional yang belum terverifikasi. Menghindari klik pada tautan mencurigakan serta tidak ikut menyebarkan konten tanpa sumber jelas menjadi langkah sederhana namun penting dalam menjaga ekosistem digital tetap sehat.
Isu “Teh Pucuk viral” dan “KKN 17 menit” kembali membuktikan bahwa di balik tren pencarian yang tinggi, terdapat risiko disinformasi dan kejahatan siber yang mengintai.



















































