Miris! Jalan Sehat Pelajar di Kota Batu Diwarnai Aksi Sawer Biduan oleh Siswa SD

7 hours ago 9

Kegiatan jalan sehat pelajar "Mlaku Fest" di Kota Batu, Jawa Timur, diwarnai aksi sawer biduan oleh siswa SD. K3S mengakui tindakan itu tak pantas.

Redaksi PEWARTA

Oleh Redaksi PEWARTA

Jumat, Agustus 21, 2026

jalan sehat pelajar sd kota batu diwarnai aksi sawer biduan
Kegiatan jalan sehat pelajar SD se-Kecamatan Batu di Rest Area Mayangsari, Kota Batu, diwarnai aksi sejumlah siswa SD yang naik panggung dan memberikan saweran kepada biduan wanita. (Dok. PEWARTA.co.id/Yan)

PEWARTA.CO.ID — Kegiatan jalan sehat yang diikuti ribuan siswa SD se-Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, pada Kamis (20/8/2026) menjadi sorotan setelah sejumlah peserta didik terlihat naik ke panggung dan memberikan uang saweran kepada seorang biduan perempuan.

Kegiatan yang digelar di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, tersebut merupakan agenda yang digagas Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Dalam klarifikasinya, K3S mengakui aksi tersebut terjadi secara spontan dan menilai tindakan itu kurang pantas serta kurang etis dilakukan anak usia sekolah dasar.

Ketua K3S, Mohammad Mustain, mengatakan aksi menyawer biduan oleh siswa SD tersebut tidak termasuk dalam susunan acara yang direncanakan panitia.

“Kejadian di luar perencanaan. Tindakan menyawer oleh beberapa siswa SD tersebut terjadi secara spontan, mendadak, dan sama sekali tidak ada dalam rangkaian susunan acara yang direncanakan panitia,” ujarnya.

Aksi siswa terjadi saat sesi hiburan

Agenda utama kegiatan bertajuk "Mlaku Fest" tersebut adalah gerak jalan yang kemudian dilanjutkan dengan pengundian hadiah hiburan yang diselingi penampilan penyanyi lokal.

Saat hiburan berlangsung, sejumlah siswa terlihat ikut bergoyang hingga naik ke area panggung dan memberikan uang kepada biduan. Sejumlah guru dan wali murid diketahui berada di lokasi ketika kejadian berlangsung.

Peristiwa tersebut kemudian mendapat perhatian dari sebagian wali murid karena kegiatan melibatkan anak-anak sekolah dasar dan diselenggarakan dalam lingkungan yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Salah seorang wali murid berinisial Z mengaku prihatin karena menurutnya tidak ada pengawasan yang cukup ketika aksi tersebut berlangsung.

"Terus terang saya prihatin sekali, sebab tidak ada pengawasan dari para guru dan pihak panitia pelaksana, saya kuatir moral anak saya menjadi rusak karena aksi tersebut, karena dalam masa pertumbuhan anak di aeah umur serta etika dan moral," ungkapnya.

Ia juga mengatakan dirinya langsung mengajak anaknya pulang setelah melihat kejadian tersebut.

"Saya menilai itu sangat tidak pantas sekali, apalagi sampai berjoget dengan orang dewasa sambil menyawer uang. Seharusnya, di moment kemerdekaan RI ke-81 ini kita harus lebih menghargai bentuk perjuangan para pahlawan terutama bagi generasi penerus bangsa seperti anak saya. Maka dari itu, anak saya langsung saya ajak pulang ke rumah, dan saya sangat menyayangkan sekali," paparnya.

Wali murid pertanyakan pengawasan

Wali murid tersebut juga menyebut peserta kegiatan membayar Rp5 ribu untuk kupon. Menurut keterangannya, uang tersebut terdiri dari Rp3 ribu untuk gerak jalan dan Rp2 ribu untuk permainan.

Ia berharap Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu memberikan perhatian terhadap kejadian tersebut, termasuk mempertimbangkan tindakan kepada pihak yang dinilai bertanggung jawab atas pengawasan kegiatan.

"Harapan saya, agar panitia dan guru-guru yang terlibat ditindak tegas dengan memberikan sanksi, agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, karena saya kuatir moral dan ahlak anak saya rusak, mental psikologisnya supaya tidak terganggu," paparnya.

K3S akui ada kekurangan pengawasan

K3S menyatakan kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan agenda gerak jalan yang dilanjutkan pengundian hadiah dan hiburan. Namun, aksi sejumlah siswa di panggung tidak pernah direncanakan dalam rangkaian kegiatan.

“Sebagai panitia, KKGO, BAPOPSI dan K3S, kami mengakui bahwa kejadian spontan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar,” kata Mohammad Mustain.

Pihak K3S menyebut kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi kepala sekolah dan pendidik yang terlibat dalam kegiatan.

“Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi mendalam dan pembelajaran berharga bagi kami beserta seluruh kepala sekolah dan pendidik. Ke depan, kami akan memperketat pengawasan serta pengkondisian acara agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya.

K3S juga menyatakan komitmennya untuk tetap membimbing peserta didik dalam menjaga nilai-nilai etika, baik di lingkungan sekolah maupun ketika mengikuti kegiatan di luar sekolah.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Kota Batu mengenai tindak lanjut, atensi, maupun kemungkinan sanksi terhadap panitia dan guru terkait kejadian tersebut.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |