Redaksi Pewarta.co.id
Minggu, Februari 15, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Rupiah Perkasa! Sepekan Menguat 0,23 Persen Meski Dihantam Tekanan Fiskal dan Data AS |
PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan di tengah derasnya sentimen global dan tekanan dari dalam negeri. Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meskipun sempat terkoreksi tipis pada akhir perdagangan.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (13/2/2026) rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,05 persen ke posisi Rp16.836 per dolar AS. Namun secara akumulatif mingguan, rupiah justru terapresiasi 0,23 persen dibandingkan posisi Jumat sebelumnya yang berada di level Rp16.876 per dolar AS.
Penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia. Dalam periode sepekan, rupiah menguat 0,25 persen ke level Rp16.844 per dolar AS, walau secara harian sempat terkoreksi sekitar 0,10 persen.
Terjepit sentimen global dan domestik
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah saat ini berada di antara tekanan eksternal dan dinamika ekonomi dalam negeri.
Dari sisi global, perkembangan ekonomi Amerika Serikat menjadi perhatian utama pasar. Data penjualan ritel Desember yang melemah memberi sinyal adanya perlambatan belanja konsumen. Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan laporan ketenagakerjaan terbaru.
Data Nonfarm Payrolls (NFP) Januari menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 130.000, jauh melampaui proyeksi pasar yang hanya 70.000. Selain itu, tingkat pengangguran di AS turun dari 4,4 persen menjadi 4,3 persen. Rata-rata pendapatan per jam juga naik 0,4 persen secara bulanan (month to month/MoM), memperlihatkan pasar tenaga kerja yang masih solid.
Kombinasi data tersebut memunculkan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan, yang secara tidak langsung memengaruhi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Tekanan fiskal jadi sorotan
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada kondisi fiskal Indonesia, khususnya terkait postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Ibrahim menyoroti lonjakan belanja negara yang dinilai cukup signifikan dan berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas nilai tukar.
"Dari dalam negeri, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti," ujar Ibrahim, Jumat (13/2/2026).
Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp3.451,4 triliun. Kenaikan ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah tantangan penerimaan negara yang belum sepenuhnya stabil.
Lonjakan belanja dan kewajiban pembayaran utang dinilai dapat menambah tekanan terhadap neraca fiskal. Jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Proyeksi pergerakan Rupiah
Meski dibayangi berbagai sentimen, rupiah dinilai masih memiliki ruang untuk bergerak stabil dalam rentang tertentu. Volatilitas tetap mungkin terjadi, seiring pasar mencerna data ekonomi global dan perkembangan kebijakan fiskal domestik.
Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah dalam sepekan mendatang akan bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.960 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan potensi fluktuasi yang tetap terkendali, selama tidak ada sentimen besar yang memicu tekanan tambahan.
Dengan kombinasi data ekonomi AS yang beragam dan dinamika fiskal nasional, pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati. Rupiah pun diproyeksikan bergerak dinamis, mengikuti arus sentimen global dan kebijakan dalam negeri.



















































