Wabah Ebola di RD Kongo mencapai 2.011 kasus dengan 754 kematian. Penyebaran Ebola, virus Bundibugyo, dan penanganan wabah masih menghadapi kendala.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Kamis, Juli 16, 2026
![]() |
| Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 2.011 Kasus, 754 Orang Meninggal dan Kasus Terus Meluas |
PEWARTA.CO.ID — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemerintah, jumlah kasus yang telah terkonfirmasi kini mencapai 2.011, sementara korban meninggal dunia tercatat sebanyak 754 orang.
Lonjakan tersebut menjadikan wabah yang sedang berlangsung sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah negara itu. Organisasi kemanusiaan medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) menyebut situasi ini sebagai wabah Ebola terbesar ketiga sekaligus yang berkembang paling cepat yang pernah tercatat.
Penanganan wabah terkendala aksi mogok tenaga kesehatan
Upaya pengendalian wabah masih menghadapi berbagai hambatan di lapangan. Salah satunya adalah aksi mogok yang dilakukan tenaga kesehatan akibat persoalan pembayaran upah.
Di Rumah Sakit Umum Bunia yang berada di wilayah pusat penyebaran Ebola, para petugas kesehatan dilaporkan melakukan aksi mogok kerja dengan menutup akses masuk rumah sakit menggunakan barikade. Mereka memprotes gaji yang belum dibayarkan meski tetap bertugas dalam situasi yang penuh risiko.
Virus Bundibugyo membuat penanganan semakin sulit
Ebola merupakan penyakit akibat infeksi virus yang dapat berujung fatal. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh manusia maupun hewan yang telah terinfeksi.
Penderita umumnya mengalami demam tinggi, muntah, hingga perdarahan di dalam maupun luar tubuh.
Wabah yang mulai terdeteksi sejak 15 Mei itu dipicu oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang tergolong langka. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk varian tersebut, berbeda dengan virus Zaire yang lebih umum.
MSF minta langkah penanganan segera diperluas
Melihat perkembangan kasus yang terus meningkat, MSF mendesak agar langkah-langkah penahanan penyebaran dan layanan perawatan segera diperluas.
"Setiap keterlambatan merenggut nyawa. Kita masih mengejar wabah alih-alih mengantisipasinya," kata Trish Newport, manajer program darurat MSF, sebagaimana dilansir Sky News.
MSF juga mengingatkan bahwa penyebaran wabah kini semakin meluas ke berbagai wilayah. Menurut organisasi tersebut, masyarakat yang tinggal di luar kawasan perkotaan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, sementara sistem pemantauan kasus juga mengalami tekanan akibat tingginya jumlah pasien.
WHO: Wabah masih berada dalam fase ekspansi
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menyampaikan bahwa wabah Ebola di RD Kongo hingga pekan lalu masih berada dalam fase ekspansi.
Menurut WHO, meluasnya penyebaran dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang tinggi serta keterlambatan pasien dalam memperoleh penanganan medis, sehingga upaya pengendalian wabah menjadi semakin kompleks.



















































