Zulhas Akui Pernah Dapat Dana USD50 Juta dari George Soros

14 hours ago 17

Zulhas mengungkap pernah mendapatkan dana sebesar USD50 juta dari George Soros untuk kelestarian hutan, tetapi sulit digunakan karena regulasi.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, Agustus 13, 2026

Zulkifli Hasan mengaku pernah dapat dana dari George Soros
Zulkifli Hasan mengungkap pendanaan USD50 juta dari George Soros saat dirinya menjabat Menteri Kehutanan periode 2009-2014. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkap pernah menerima pendanaan sebesar USD50 juta dari lembaga donor yang didirikan dan dikelola George Soros ketika dirinya menjabat Menteri Kehutanan periode 2009-2014.

Menurut Zulhas, dana yang setara sekitar Rp890 miliar dengan kurs Rp17.870 tersebut diperuntukkan bagi proyek kelestarian lingkungan dan upaya menjaga hutan di Indonesia. Namun, pendanaan itu sulit dimanfaatkan karena terkendala persyaratan dan regulasi yang rumit.

"George Soros yang datang ke kantor saya taruh uang USD50 juta. Tapi sampai saya berakhir sebagai Menteri Kehutanan, saya enggak bisa pakai karena syaratnya rumit," ujar Zulhas saat ditemui di Kantor Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).

Zulhas mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya keberadaan BPDLH. Lembaga tersebut diharapkan dapat membuat penyaluran pendanaan lingkungan dari luar negeri lebih mudah digunakan oleh daerah sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

BPDLH merupakan badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan yang berfungsi menghimpun, mengelola, dan menyalurkan pembiayaan lingkungan hidup dari berbagai sumber. Sumber pendanaan itu mencakup anggaran negara, pinjaman, hingga dukungan dari mitra internasional.

"Jadi lembaga ini dibentuk agar transparan, akuntabel, mendukung pelestarian lingkungan, pengendalian perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Tujuannya itu," kata Zulhas.

Dana REDD+ sulit dimanfaatkan

Zulhas menjelaskan, pendanaan tersebut telah ada ketika dirinya menjabat Menteri Kehutanan melalui skema Result-Based Payment (RBP) REDD+. Namun, menurut dia, proses pencairan yang sulit membuat penggunaan dana tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ia mengaku kondisi tersebut bahkan membuat anggaran banyak terserap untuk kegiatan rapat antarinstansi karena proses pelaksanaannya berlarut-larut.

"Tetapi jangan gara-gara cari alasan sulit. Sulitnya sampai hampir enggak bisa jalan. Akhirnya uang kita habis rapat-rapat aja gitu karena sulit dalam pelaksanaannya. Misalnya, nanti rapat lagi di luar negeri mana-mana kita ya bertahun-tahun muter muter muter muter uangnya habis itu," kata Zulhas.

Menurut Zulhas, skema REDD+ tersebut pertama kali berjalan pada masa dirinya menjadi Menteri Kehutanan. Ia mengakui pelaksanaan program saat itu belum berjalan dengan baik karena mekanisme penggunaan dananya masih sulit.

"Tentu ini dibentuk agar ini bisa berjalan dengan baik. Zaman saya enggak jalan, saya akui. Sulit sekali karena baru zaman itu. Pertama kali REDD+ itu zaman saya. Itu duitnya juga susah, maka George Soros yang taruh. Tapi selesai saya tadi masih USD50 juta," pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |