Redaksi Pewarta.co.id
Senin, April 13, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| 11 Ribu Penerima Bansos Dicoret pada April 2026, Ini Alasan dan Data Terbarunya |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah resmi menghapus lebih dari 11 ribu nama dari daftar penerima bantuan sosial (bansos) mulai April 2026.
Kebijakan ini diambil setelah dilakukan pembaruan data melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) versi kedua tahun 2026, yang menjadi acuan penyaluran bansos triwulan II.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran, terutama bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Penyebab 11 ribu penerima dicoret dari bansos
Berdasarkan hasil pemutakhiran yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), ditemukan adanya kesalahan penyaluran atau inclusion error pada ribuan penerima. Totalnya mencapai 11.014 keluarga yang dinilai tidak lagi memenuhi syarat sebagai penerima bantuan.
Jumlah tersebut setara dengan 0,06 persen dari total 18,15 juta keluarga penerima bansos pada triwulan I 2026.
“Dari hasil pemutakhiran DTSEN versi kedua ini, kami menemukan adanya inclusion error sebanyak 11.014 atau sebesar 0,06 persen dari penerima bansos triwulan satu, di mana total penerima bansos triwulan satu adalah 18,15 juta keluarga,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti saat konferensi pers di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Senin (13/4/2026).
Pembaruan data DTSEN triwulan II 2026
Dalam proses pembaruan tersebut, BPS juga menindaklanjuti data penerima yang sebelumnya belum memiliki klasifikasi kesejahteraan atau desil. Pada triwulan I, tercatat sekitar 77 ribu keluarga belum dapat ditentukan tingkat desilnya akibat keterbatasan variabel.
Namun, pada triwulan II, sebagian besar dari data tersebut berhasil diperbarui. Dari total 77.014 keluarga, sebanyak 27.176 keluarga kini telah memiliki penentuan desil.
“Sehingga kami bisa memastikan bahwa dari penerima bansos yang sebelumnya tidak bisa ditentukan desilnya, sudah ada 25.665 keluarga yang berada di desil satu sampai empat. Sementara sekitar 1.511 keluarga berada di desil lima sampai sepuluh,” ujarnya.
Upaya memastikan bansos tepat sasaran
Pembersihan data ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial. Dengan data yang lebih valid, diharapkan bansos dapat menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Data pembaruan inilah yang kemudian kami sampaikan kepada Menteri Sosial hari ini untuk menjadi dasar penyaluran bantuan sosial pada triwulan dua,” katanya.
Langkah ini juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memperbaiki sistem pendataan sosial ekonomi nasional secara berkelanjutan.
DTSEN akan terus diperbarui
Ke depan, BPS memastikan bahwa DTSEN akan terus disempurnakan melalui pemutakhiran rutin setiap triwulan. Proses ini bertujuan untuk menjaga kualitas data sekaligus meminimalisir kesalahan penyaluran bansos.
“DTSEN akan semakin rapi dan solid karena kami terus membersihkan data penerima bansos yang seharusnya tidak lagi menerima. Sekitar 11.014 orang tersebut merupakan bagian dari inclusion error,” jelas Amalia.
“Secara umum, DTSEN akan terus menjadi lebih baik karena kami melakukan pemutakhiran secara berkelanjutan,” pungkasnya.



















































