Laba bersih Bank Jago mencapai Rp189 miliar pada semester I 2026. Pertumbuhan didorong nasabah, kredit, DPK, dan inovasi layanan digital.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Sabtu, Juli 25, 2026
![]() |
| Bank Jago (ARTO) Raup Laba Bersih Rp189 Miliar pada Semester I 2026, Nasabah dan Kredit Jadi Motor Pertumbuhan |
PEWARTA.CO.ID — PT Bank Jago Tbk (ARTO) membukukan kinerja positif sepanjang semester I 2026 dengan mencatat laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) sebesar Rp189 miliar. Perolehan tersebut meningkat 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp127 miliar.
Kenaikan laba ini berjalan seiring pertumbuhan jumlah nasabah, peningkatan penyaluran kredit, hingga bertambahnya dana pihak ketiga (DPK). Perseroan menilai inovasi layanan digital dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis menjadi faktor penting yang menopang pencapaian tersebut.
Inovasi digital dan kolaborasi jadi penopang
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi perusahaan dalam menghadirkan inovasi produk dan memperkuat kerja sama dengan ekosistem strategis.
"Sebagai bank berbasis teknologi, pertumbuhan bisnis ini tidak lepas dari inovasi produk dan layanan kami serta kolaborasi kuat dengan mitra ekosistem strategis. Dengan begitu kami mampu menghadirkan solusi keuangan yang relevan bagi berbagai segmen nasabah, sekaligus membangun fundamental yang solid untuk pertumbuhan di masa depan,” kata Arief dalam keterangannya, Sabtu(25/7/2026).
Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna yang telah bergabung dengan Bank Jago mencapai 20,1 juta. Dari total tersebut, sebanyak 14,7 juta merupakan nasabah simpanan yang aktif menggunakan Aplikasi Jago.
Jumlah tersebut bertambah hampir 3 juta nasabah dibandingkan posisi semester I 2025 yang tercatat sebanyak 17,2 juta pengguna.
DPK dan kredit tumbuh dua digit
Bertambahnya basis nasabah turut mendorong peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hingga Juni 2026, DPK Bank Jago mencapai Rp27,6 triliun atau tumbuh 23 persen dibandingkan Rp22,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Struktur DPK masih didominasi dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar 53 persen senilai Rp14,6 triliun. Sementara itu, deposito menyumbang 47 persen atau sekitar Rp13,1 triliun.
Di sisi pembiayaan, penyaluran kredit meningkat 24 persen menjadi Rp26,6 triliun, naik dari Rp21,4 triliun pada semester I 2025.
Perseroan juga tetap menjaga kualitas kredit dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang berada di level 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.
Sinergi dengan Bibit, Stockbit, dan BFI Finance
Pertumbuhan bisnis Bank Jago juga didukung kolaborasi bersama ekosistem investasi digital Bibit dan Stockbit. Integrasi tersebut memudahkan nasabah melakukan transaksi investasi langsung melalui layanan yang tersedia.
Saat ini, lebih dari 3,6 juta pengguna Aplikasi Jago telah terhubung dengan platform Bibit dan Stockbit.
Selain itu, kerja sama penyaluran kredit bersama berbagai platform digital serta perusahaan pembiayaan, termasuk BFI Finance, turut memperkuat ekspansi portofolio kredit perusahaan.
"Kami berkomitmen terus menjalankan kolaborasi bisnis dan penyaluran kredit yang telah terbangun baik selama lima tahun terakhir. Pada saat yang sama kami juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas," jelas Arief.
Sebagai bagian dari penerapan pembiayaan yang bertanggung jawab, Bank Jago menghadirkan fitur Rapor Kredit di Aplikasi Jago.
Fitur tersebut dirancang agar nasabah dapat memantau kondisi kesehatan finansial sekaligus memahami kapasitas keuangan sebelum mengajukan pinjaman.
Total aset meningkat hingga Rp41,4 triliun
Kinerja yang terus bertumbuh turut mengerek total aset Bank Jago menjadi Rp41,4 triliun hingga Juni 2026. Angka tersebut naik 28 persen dibandingkan posisi Juni 2025 yang sebesar Rp32,4 triliun.
Di sisi permodalan, Bank Jago juga mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 28,4 persen. Posisi tersebut dinilai menjadi fondasi yang kuat untuk mendukung ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Menutup keterangannya, Arief menegaskan visi perusahaan untuk terus berkembang sebagai bank berbasis teknologi yang mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah maupun mitra bisnis.
"Kami ingin Bank Jago dikenal bukan hanya sekadar bank di saku nasabah tetapi menjadi bank berbasis teknologi yang membantu nasabah, mitra ekosistem, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kesempatan tumbuh mereka secara bersama-sama melalui inovasi dan kolaborasi yang berdampak positif di masa depan," pungkas Arief.



















































