Iran tegaskan negosiasi dengan AS belum dimulai selama ancaman berlanjut. Simak pernyataan Iran, Abbas Araghchi, MoU Islamabad, dan sikap Donald Trump
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, Juli 08, 2026
![]() |
| Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (Foto: Dok. X/Seyed Abbas Araghchi) |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembahasan menuju kesepakatan final dengan Amerika Serikat belum dapat dimulai selama ancaman terhadap negaranya masih berlangsung. Sikap tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin (6/7/2026).
Mengutip laporan Anadolu, Araghchi menjelaskan bahwa ketentuan tersebut telah diatur dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati kedua negara pada bulan lalu.
Ketentuan MoU menjadi dasar sikap Iran
Araghchi merujuk pada Paragraf 13 dalam MoU yang menyatakan bahwa proses perundingan menuju kesepakatan akhir tidak dapat dimulai apabila ancaman terhadap Iran masih terus berlanjut.
Melalui unggahan di platform media sosial X, ia juga meminta Amerika Serikat mematuhi isi kesepakatan yang telah disetujui dan ditandatangani bersama.
MoU Islamabad yang difasilitasi Pakistan resmi berlaku sejak 18 Juni 2026 setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan yang memuat 14 poin tersebut membuka masa diplomasi selama 60 hari bagi kedua negara.
Perundingan berlangsung di tengah ancaman
Selama periode diplomasi tersebut, Iran dan Amerika Serikat menjalankan perundingan secara tidak langsung dengan tujuan mencapai kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Namun, pernyataan Araghchi muncul setelah Trump menyampaikan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militer apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan penyelesaian.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Meski demikian, ia mengatakan penyelesaian melalui jalur kesepakatan tetap menjadi pilihan yang lebih diutamakan dibandingkan tindakan militer.
Presiden Amerika Serikat itu juga menyatakan bahwa negaranya akan mencapai kesepakatan atau menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara lain apabila diperlukan. Meski mengakui opsi militer bukan hal yang sulit dilakukan, Trump mengatakan dirinya tetap berharap dapat menghindari dampak terhadap masyarakat Iran.



















































