Konsumen Indonesia Makin Selektif! Belanja Tak Lagi Sekadar Cari Diskon, Brand Dipaksa Berubah

6 hours ago 6

Hammad Hendra

Hammad Hendra

Minggu, Maret 15, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Konsumen Indonesia Makin Selektif! Belanja Tak Lagi Sekadar Cari Diskon, Brand Dipaksa Berubah
Konsumen Indonesia makin selektif! Belanja tak lagi sekadar cari diskon, brand dipaksa berubah. (Dok. Freepik)

PEWARTA.CO.ID — Perilaku belanja masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan signifikan.

Di tengah meningkatnya tekanan biaya hidup, konsumen kini semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Mereka tidak lagi sekadar mencari potongan harga, tetapi juga mempertimbangkan nilai dan manfaat dari setiap produk yang dibeli.

Kondisi ini membuat perusahaan atau brand harus beradaptasi.

Mereka dituntut tidak hanya menawarkan promosi menarik, tetapi juga berperan sebagai spending partner yang membantu konsumen merencanakan pengeluaran, memilih produk yang bernilai, serta memaksimalkan setiap transaksi.

Data tren belanja pada periode Ramadhan sebelumnya menunjukkan pola yang relatif konsisten.

Aktivitas belanja biasanya mencapai puncaknya sekitar dua minggu sebelum hingga dua minggu setelah Ramadhan.

Namun kini pola konsumsi tersebut semakin dipengaruhi oleh pertimbangan nilai serta perencanaan belanja yang lebih matang.

Menurut Enterprise Business Director Infobip, Kukuh Prayogi, konsumen Indonesia saat ini tidak hanya berburu promo, tetapi juga menilai relevansi setiap produk yang ingin mereka beli.

“Konsumen Indonesia memang dikenal price-sensitive. Dalam situasi ekonomi saat ini, mereka semakin aktif membandingkan harga, memperpanjang fase pertimbangan sebelum membeli, dan mulai melakukan riset lebih awal menjelang Ramadhan. Artinya, brand tidak cukup hanya hadir dengan promosi besar, tetapi harus mampu memberikan nilai yang benar-benar relevan bagi konsumen,” jelasnya, Sabtu (14/3/2026).

Konsumen beralih ke konsumsi yang lebih terencana

Perubahan perilaku tersebut mendorong banyak brand memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence untuk memahami pola belanja konsumen.

Teknologi ini digunakan untuk memberikan rekomendasi produk yang lebih personal sekaligus menciptakan interaksi yang relevan dengan pelanggan.

Jika beberapa tahun lalu perubahan perilaku konsumen lebih banyak dipicu oleh meningkatnya digitalisasi dan penggunaan smartphone, kini faktor utama justru berasal dari pola konsumsi masyarakat yang semakin cerdas dan terencana.

“Konsumen Indonesia saat ini tidak hanya ingin pengalaman digital yang cepat dan nyaman, tetapi juga ingin merasa bahwa brand memahami kebutuhan mereka secara personal. Oleh karena itu, strategi komunikasi yang bersifat ‘one for all’ semakin sulit efektif,” tambah Yogi.

Karena itu, strategi hyper-personalization menjadi semakin penting bagi perusahaan agar tetap relevan, terutama pada periode dengan persaingan tinggi seperti bulan Ramadhan.

Seiring meningkatnya ekspektasi konsumen, semakin banyak brand di Indonesia yang mulai mengandalkan teknologi AI untuk menganalisis perilaku pelanggan.

Teknologi ini memungkinkan perusahaan membaca pola belanja lebih awal sehingga strategi pemasaran dapat dilakukan secara lebih proaktif, bukan sekadar reaktif.

Saat ini, sekitar 50 persen implementasi AI dalam sistem messaging telah didukung teknologi Generative AI, yang mampu membantu brand membuat konten promosi, rekomendasi produk, hingga penawaran yang lebih personal dalam skala besar.

Meski begitu, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus diimbangi dengan tata kelola data yang baik serta menjaga kepercayaan pelanggan.

“Di pasar yang kompetitif seperti Indonesia, relevansi harus berjalan berdampingan dengan kepercayaan. Brand perlu memastikan penggunaan AI dilakukan secara transparan, dengan tetap menghormati consent dan perlindungan data pelanggan,” kata Yogi.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |