QRIS Bisa Dipakai di China, ASPI Yakin Ekonomi Digital Indonesia Makin Kuat

4 hours ago 5

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Jumat, Mei 01, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

QRIS Bisa Dipakai di China, ASPI Yakin Ekonomi Digital Indonesia Makin Kuat
Transaksi menggunakan QRIS kini bisa dilakukan di sejumlah negara, termasuk China.

PEWARTA.CO.ID — Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyambut positif langkah Bank Indonesia yang resmi memperluas layanan konektivitas QRIS ke China. Kebijakan ini dinilai menjadi peluang besar dalam memperkuat ekonomi digital kedua negara sekaligus mempererat hubungan bisnis dan pariwisata.

Ketua Umum ASPI, Santoso Liem, mengatakan kerja sama tersebut menjadi momentum penting karena Indonesia dan China sama-sama memiliki kekuatan besar di sektor ekonomi digital Asia. Menurutnya, integrasi sistem pembayaran lintas negara akan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa depan.

"Bagus sekali karena ini adalah salah satu kerjasama. Karena China adalah ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai pemain digital di sana. Dan Indonesia juga adalah pemain digital yang unggul juga. Jadi ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi," ujar Santoso saat ditemui usai peluncuran di Gedung Bank Indonesia, Kamis (30/4/2026).

Santoso menuturkan, pengembangan konektivitas QRIS dengan China sangat strategis mengingat besarnya jumlah pengguna layanan digital serta pelaku UMKM di kedua negara. Di Indonesia sendiri, ekosistem QRIS disebut telah digunakan oleh sekitar 45 juta UMKM.

Kerja sama baru mencakup Alipay dan UnionPay

Saat ini, implementasi pembayaran QRIS lintas negara dengan China masih mencakup dua mitra utama, yakni UnionPay dan Alipay. Meski demikian, ASPI membuka peluang untuk memperluas integrasi dengan penyedia layanan pembayaran digital lain, termasuk WeChat Pay dan Mobile Payment Companion (MPC).

Santoso mengungkapkan bahwa proses integrasi tambahan masih membutuhkan penyesuaian teknologi di pihak China. Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah siap dari sisi sistem, sementara China masih perlu menyatukan berbagai platform pembayaran menjadi satu jaringan yang mendukung transaksi internasional.

"Kalau WeChat-nya sedang dieksplor. Karena ini ada aspek teknologi yang harus diinterkoneksikan di antara mereka sendiri. Di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Di mereka yang ada masalah karena baru dua kan (Alipay dan UnionPay). Mereka harus mengintegrasikan, mereka harus merubah menjadi satu platform," jelas Santoso.

Transaksi langsung Rupiah dan Yuan

Dalam kerja sama tersebut, salah satu hal penting yang diterapkan adalah sistem Local Currency Transaction (LCT). Melalui mekanisme ini, transaksi antara Indonesia dan China tidak lagi memerlukan konversi melalui mata uang ketiga seperti dolar AS.

Pembayaran nantinya dilakukan langsung menggunakan kurs Rupiah (IDR) dan Yuan atau Renminbi (CNY), sehingga dinilai lebih efisien dan aman bagi pengguna.

"Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan," tambahnya.

Santoso juga mengaku telah beberapa kali mencoba sistem pembayaran digital di China dan menilai implementasinya berjalan cukup baik. Meski begitu, ia mengakui layanan tersebut masih belum tersebar secara luas.

Ke depan, ia berharap China dapat memiliki satu standar kode QR yang mampu mengintegrasikan berbagai penyedia jasa pembayaran sekaligus, seperti yang telah diterapkan melalui QRIS di Indonesia.

"Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini," pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |