Hammad Hendra
Minggu, Maret 15, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Rupiah tembus Rp17.000 per USD, Purbaya dihujat netizen! Ini 4 fakta yang sebenarnya terjadi. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sempat menyentuh angka Rp17.000 per USD.
Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari warganet yang menyoroti kinerja pemerintah, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pelemahan mata uang nasional ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Meski begitu, pemerintah menilai kondisi ekonomi domestik masih berada dalam jalur pertumbuhan.
Berikut sejumlah fakta terkait melemahnya Rupiah hingga Rp17.000 per USD yang memicu kritik dari masyarakat.
Purbaya dimaki netizen di media sosial
Purbaya mengaku sempat menerima kritik tajam dari masyarakat di media sosial terkait melemahnya nilai tukar Rupiah.
"Walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang, katanya, 'Hey Pak Purbaya, Menteri Keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,' tapi kita menilai harus dengan fair (adil). Apa yang terjadi harus dibandingkan juga dengan kondisi seluruh negara di dunia seperti apa," ungkapnya.
Ia menilai bahwa penilaian terhadap kondisi ekonomi seharusnya dilakukan secara objektif dengan membandingkan situasi global yang juga sedang mengalami tekanan.
Ekonomi disebut masih dalam fase ekspansi
Meski nilai tukar Rupiah melemah dan pasar saham mengalami tekanan, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional belum memasuki fase resesi seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak.
"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi. Gitu lah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian, dan boro-boro krisis, resesi aja belum. Melambatnya aja belum," tegas Purbaya.
Ia menilai berbagai indikator ekonomi masih menunjukkan aktivitas ekonomi yang terus berkembang.
Investor diminta tidak panik
Di tengah gejolak pasar keuangan, pemerintah meminta para investor untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan kepanikan.
Menurut Purbaya, pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tetap kuat menghadapi tekanan global.
"Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi, yang investor di pasar saham nggak usah takut, pondasi kita jaga betul," lanjutnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya sehingga optimistis dapat menjaga pertumbuhan ekonomi.
"Yang jelas, kalau pengalaman 2008, 2020, 2015, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita," pungkasnya.
Dampak konflik global terhadap inflasi
Pelemahan Rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi Indonesia, terutama menjelang Idul Fitri 2026.
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance, Abdul Manap Pulungan, menyebut kondisi ekonomi saat ini memiliki tantangan tersendiri karena bertepatan dengan momentum Ramadhan.
Ia menjelaskan bahwa tekanan inflasi saat ini berasal dari berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga pangan, inflasi energi, hingga pelemahan nilai tukar Rupiah yang memicu inflasi impor.
"Dengan adanya tantangan-tantangan dari sisi inflasi bahan makanan, terus inflasi energi, nilai tukar terdepresiasi yang pada akhirnya meningkatkan inflasi impor, maka ini akan mempengaruhi inflasi secara keseluruhan," kata Abdul Manap.



















































