Tambang Emas di Sudan Runtuh, 82 Orang Tewas dan 50 Lainnya Terluka

4 hours ago 12

Tambang emas Sudan runtuh menewaskan 82 orang dan melukai 50 lainnya. Puluhan penambang masih terjebak dan pencarian terus dilakukan.

Redaksi PEWARTA

Oleh Redaksi PEWARTA

Kamis, September 17, 2026

tambang emas runtuh di Kordofan Barat Sudan
Tambang emas runtuh di Kordofan Barat, Sudan. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Sedikitnya 82 orang tewas setelah tambang emas al-Zaraa di dekat kota al-Nuhud, Kordofan Barat, Sudan, runtuh pada Selasa (15/9/2026). Sebanyak 50 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, sementara jumlah penambang yang masih terjebak di bawah reruntuhan belum diketahui.

Kelompok pemantau Observatorium Kordofan melaporkan sejumlah lubang tambang yang lokasinya berdekatan runtuh secara beruntun. Proses pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, tetapi upaya evakuasi menghadapi keterbatasan peralatan.

Sumber dari Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter yang menguasai wilayah tersebut mengatakan sedikitnya 82 orang meninggal dan 50 lainnya terluka. Sumber yang tidak disebutkan namanya itu meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak memiliki kewenangan berbicara kepada media.

"Ada sejumlah orang yang tidak diketahui jumlahnya masih terjebak di bawah reruntuhan dan upaya penyelamatan sedang dilakukan dengan metode yang masih sangat sederhana," kata sumber tersebut, dilansir dari Aljazeera, Rabu (16/9/2026).

Penyelamatan dilakukan dengan peralatan sederhana

Kondisi lokasi membuat proses evakuasi berjalan lambat. Tidak ada tim penyelamat khusus yang dikerahkan sehingga warga setempat mengandalkan peralatan sederhana untuk menggali tanah yang gembur dan berpasir.

Salah satu korban selamat, Khair al-Sayyed Jabara, mengatakan dirinya bersama sejumlah penambang lain berusaha membersihkan reruntuhan sepanjang malam menggunakan alat yang tersedia.

"Kita tidak tahu berapa banyak lagi yang masih berada di dalam," katanya kepada AFP, Rabu.

Menurut Jabara, alat berat sangat diperlukan untuk mempercepat pencarian terhadap penambang yang kemungkinan masih berada di bawah timbunan.

Penambang lain, Amin Suleiman, menyoroti posisi lubang-lubang tambang yang saling berdekatan. Ia mengatakan runtuhnya satu lubang dapat memengaruhi lubang tambang di sebelahnya.

Keselamatan tambang menjadi sorotan

Sumber-sumber lokal kepada Reuters menyebut tingginya jumlah korban diduga berkaitan dengan minimnya prosedur keselamatan dan peralatan penyelamatan di kawasan pertambangan tersebut.

Jaringan Dokter Sudan yang berbasis di Khartoum juga menyatakan pencarian masih dilakukan dan memperingatkan jumlah korban tewas berpotensi bertambah. Menurut kelompok tersebut, lokasi tambang tidak memiliki perlindungan dasar yang memadai bagi para pekerja.

Jaringan Dokter Sudan menyerukan agar proses pencarian dan penyelamatan terus dilanjutkan. Mereka juga meminta bantuan medis dan logistik segera dikirimkan kepada masyarakat terdampak serta mendesak penghentian aktivitas penambangan ilegal di wilayah tersebut.

Tambang berada di wilayah kekuasaan RSF

Kordofan Barat merupakan salah satu wilayah yang dikuasai RSF, kelompok paramiliter yang berperang melawan tentara Sudan sejak April 2023.

Emas yang diselundupkan disebut menjadi salah satu sumber pendapatan utama kelompok tersebut. Aktivitas pertambangan di area yang berada di bawah kekuasaan RSF juga menjadi sorotan karena disebut berlangsung tanpa standar keselamatan dan peralatan perlindungan yang memadai.

Sudan sendiri merupakan salah satu negara produsen emas utama di Afrika. Sebagian besar produksinya berasal dari pertambangan informal di lokasi-lokasi yang tidak digunakan atau tidak resmi, dengan kondisi kerja yang berisiko.

Jatuhnya tambang al-Zaraa kembali memperlihatkan risiko yang dihadapi penambang tradisional, sementara puluhan orang yang masih belum diketahui nasibnya membuat operasi pencarian di lokasi tersebut terus berlangsung.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |