Redaksi Pewarta.co.id
Minggu, April 05, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Video Mesum di Warung Dimsum Solo Durasi 1 Menit 18 Detik Terekam CCTV, Pelaku Panik dan Minta Maaf Pakai Akun Palsu |
PEWARTA.CO.ID — Media sosial kembali diramaikan oleh beredarnya video tak pantas yang melibatkan sepasang muda-mudi di sebuah kedai makanan di Solo.
Rekaman berdurasi 1 menit 18 detik itu memicu kehebohan karena memperlihatkan aksi tidak senonoh yang dilakukan di ruang publik.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi di lantai dua sebuah warung dimsum yang cukup dikenal di kawasan Kota Solo.
Dalam video yang beredar luas, pasangan tersebut tampak melakukan tindakan yang dinilai melanggar norma, meskipun berada di area usaha yang seharusnya menjadi ruang publik yang dijaga etika dan kenyamanannya.
Meski sempat menyadari adanya kamera pengawas, upaya pelaku untuk menghindari sorotan justru tidak berhasil. Teknologi CCTV yang digunakan oleh pemilik usaha mampu merekam seluruh pergerakan mereka secara jelas.
MASIH TERKAIT!
Viral! Aksi Mesum di Warung Dimsum Solo, Pelaku Muncul Pakai Akun Palsu Minta Video Dihapus
Tiga jam di blind spot
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian ini berlangsung di kedai PPAI Dimsum Tipes yang berada di Kecamatan Serengan, Solo. Dari hasil rekaman, pasangan tersebut datang sekitar pukul 11.30 WIB dan berada di lokasi hingga kurang lebih pukul 14.30 WIB.
Selama berada di tempat tersebut, keduanya memilih area lantai dua yang relatif sepi. Lokasi itu diduga sengaja dipilih agar aktivitas mereka tidak mudah terlihat oleh pengunjung lain maupun karyawan.
Menariknya, pelaku pria sempat berusaha mengubah arah kamera CCTV untuk menciptakan titik buta atau blind spot. Namun, upaya tersebut gagal karena kamera dilengkapi fitur pelacak gerakan.
“Mereka datang, si cowok melihat CCTV dan sempat memindah CCTV agar mereka berada di blind spot. Tapi CCTV saya mengikuti gerak orang, ketika mereka bergerak CCTV balik,” tulis pengelola PPAI Dimsum dalam unggahan yang viral.
Pemilik usaha bernama Radya mengungkapkan keterkejutannya setelah memeriksa rekaman secara menyeluruh. Ia menyebut aksi tersebut tidak terjadi sekali, melainkan berlangsung dalam beberapa bagian selama berjam-jam.
“Saat aku cek dari mereka datang sekitar jam 11.30 WIB sampai jam 14.30 WIB, itu ada part-partnya (yang lebih parah),” ungkap Radya kepada media.
Kekecewaan pemilik usaha
Pihak pengelola warung dimsum Solo menyampaikan bahwa unggahan video tersebut bukan dimaksudkan untuk mempermalukan individu tertentu. Mereka menegaskan bahwa tujuan utama adalah memberikan peringatan agar masyarakat tetap menjaga perilaku di ruang publik.
Rasa kecewa muncul karena tempat usaha yang menjadi sumber penghidupan justru digunakan untuk tindakan yang tidak pantas.
“Mas mbak, jujur minpai gak mau ikut campur masalah ini. Tapi tolong banget dong, jangan kotori tempat usaha kami, tempat dimana banyak orang mencari rezeki,” tulis caption resmi akun warung dimsum tersebut.
Selain itu, pemilik juga mengaku memiliki kekhawatiran tersendiri, baik dari sisi citra usaha maupun keyakinan pribadi yang dianutnya.
“Saya tidak ada dendam dan masalah apapun, tapi saya kesal tempat usaha saya dinodai. Terlebih menurut kepercayaan saya ketika ada perilaku zina, tetangganya kena. Takutnya berimbas pada usaha kami,” lanjutnya.
Permintaan maaf lewat akun palsu
Setelah video tersebut menyebar luas dan menuai kecaman dari warganet, salah satu pelaku akhirnya mencoba menghubungi pihak kedai. Namun, cara yang digunakan justru memicu kritik baru.
Pelaku diketahui mengirimkan pesan melalui direct message menggunakan akun kedua atau akun palsu. Dalam pesan tersebut, ia memohon agar video tidak terus disebarluaskan.
“Terkait dengan postingan tersebut dari kami mohon tolong untuk mboten di sebari luas di media mas/mba admin. Dari kami mohon maaf dan bener-bener maaf tidak melihat tempat melakukan tindakan yang kurang enak buat dilihat orang-orang mas/mba,” tulis sang pelaku dalam pesannya.
Meski permintaan maaf telah disampaikan, kejadian ini menjadi pengingat penting bagi para pelaku usaha. Pemilik kedai berharap insiden serupa tidak terulang dan mendorong pemilik bisnis lain untuk lebih rutin memantau area-area yang berpotensi menjadi titik rawan di tempat usaha mereka.



















































