Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, April 08, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Viral Narasi Bentrokan Muslim vs Kristen di Halmahera Tengah, Polisi Bantah Konflik Agama |
PEWARTA.CO.ID — Masyarakat dihebohkan oleh beredarnya video di media sosial yang disertai narasi menyesatkan, menyebut terjadi perang antaragama antara kelompok Muslim dan Kristen di Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Isu tersebut dengan cepat menyebar dan memicu kekhawatiran publik. Menyikapi hal ini, aparat kepolisian bersama pemerintah daerah langsung memberikan klarifikasi guna mencegah situasi semakin memanas.
Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Waris Agono, menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan. Ia memastikan bahwa kejadian tersebut bukanlah konflik berlatar belakang agama seperti yang ramai diperbincangkan.
Kapolda: bukan konflik SARA
Irjen Pol Waris Agono menegaskan bahwa insiden yang terjadi tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Menurutnya, peristiwa tersebut dipicu oleh provokasi serta informasi yang belum tentu kebenarannya.
"Kami tegaskan bahwa ini bukan konflik SARA. Ada indikasi kejadian ini dipengaruhi oleh provokasi dan penyebaran informasi yang belum tentu benar," terang Irjen Pol Waris Agono di Ternate, Senin, seperti dilansir dari Antara.
Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti yang menunjukkan keterlibatan kelompok agama tertentu dalam kejadian tersebut.
"Kami tegaskan, belum ada petunjuk yang mengarah ke sana," tandasnya.
Duduk perkara: bentrok antarkampung di Patani
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa yang terjadi sebenarnya merupakan konflik antarwarga desa pada Jumat (3/4/2026) pagi.
Insiden bermula dari penemuan jasad seorang warga Desa Banemo di area perkebunan yang berada di wilayah Desa Sibenpopo. Temuan tersebut memicu ketegangan hingga berujung aksi saling serang antara warga dari kedua desa.
Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun juga menegaskan bahwa kejadian ini murni persoalan hukum dan bukan konflik berbasis agama.
"Peristiwa ini adalah murni tindak pidana atau perkelahian antarkampung, bukan konflik agama atau SARA," terang Wakapolda.
Pihak kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap pelaku pembunuhan yang menjadi pemicu utama bentrokan tersebut.
Langkah tegas dan mediasi pemerintah
Pemerintah Provinsi Maluku Utara turut mengambil langkah cepat untuk meredam situasi. Gubernur Sherly Tjoanda memastikan bahwa pihaknya hadir langsung guna menjamin keamanan sekaligus membuka ruang dialog bagi masyarakat.
Wakil Gubernur Sarbin Sehe bersama aparat TNI dan Polri telah berada di lokasi untuk memastikan kondisi tetap terkendali.
"Pemerintah hadir untuk memastikan semua pihak merasa didengar, dilindungi, dan mendapatkan ruang yang adil untuk menyampaikan pandangannya," ujar Gubernur Sherly.
Selain itu, upaya mediasi juga segera dilakukan. Bupati Halmahera Tengah Ikram M Sangaji dijadwalkan mempertemukan perwakilan warga dari Desa Sibenpopo dan Desa Banemo guna mencari solusi damai.
Imbauan masyarakat: waspada hoaks dan provokasi
Di tengah maraknya penyebaran video dengan narasi provokatif, kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
"Jangan sampai isu yang tidak jelas justru memperkeruh situasi dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat," tegasnya.
Kapolda juga mengingatkan bahwa pihaknya tidak akan ragu menindak tegas siapa pun yang menyebarkan informasi bohong yang berpotensi memecah belah masyarakat.
"Siapa pun yang mencoba memecah belah dan memperkeruh situasi akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku," kata Irjen Pol Waris Agono.
Untuk menjaga stabilitas keamanan, sebanyak 250 personel gabungan TNI/Polri telah diterjunkan ke lokasi guna mengantisipasi potensi konflik lanjutan dan memastikan situasi tetap kondusif.



















































