Arab Saudi menemukan sekitar 114 juta ton bijih di Madinah yang mengandung unsur tanah langka berat dan konsentrasi uranium menjanjikan.
![]()
Oleh Redaksi PEWARTA
Selasa, September 15, 2026
![]() |
| Proyek Jabal Sayid di wilayah Madinah disebut menyimpan sekitar 114 juta ton bijih yang mengandung unsur tanah langka dan uranium. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Arab Saudi mengungkap potensi sumber daya mineral besar di wilayah Madinah setelah penelitian geologi di proyek Jabal Sayid mengidentifikasi sekitar 114 juta ton bijih yang mengandung unsur tanah langka, terutama unsur tanah langka berat, serta konsentrasi uranium yang dinilai menjanjikan.
Temuan itu disampaikan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud dalam Konferensi Umum IEA di Vienna. Pernyataan tersebut kemudian dilaporkan televisi pemerintah Arab Saudi pada Senin, 14 September 2026.
Potensi mineral di Jabal Sayid dinilai strategis karena mencakup bahan yang semakin penting untuk pengembangan berbagai sektor berbasis teknologi dan energi. Pemerintah Arab Saudi menyebut proyek tersebut sebagai salah satu lokasi sumber daya unsur tanah langka paling signifikan yang saat ini sedang dikembangkan secara global.
114 juta ton bijih teridentifikasi
Pangeran Abdulaziz mengatakan penelitian dan studi geologi di Jabal Sayid telah menghasilkan estimasi sumber daya sekitar 114 juta ton bijih.
"Penelitian dan studi geologi di proyek Jabal Sayid di wilayah Madinah telah mengidentifikasi sumber daya perkiraan sekitar 114 juta ton bijih yang mengandung unsur bumi langka, terutama unsur bumi langka berat, di samping konsentrasi yang menjanjikan uranium," kata Pangeran Abdulaziz dilansir dari Kuwait Times, Selasa (15/9/2026).
Kandungan tersebut membuat Jabal Sayid mendapat perhatian dalam pengembangan mineral kritis Arab Saudi. Pernyataan pemerintah menempatkan proyek itu dalam jajaran lokasi sumber daya tanah langka yang dinilai penting secara global.
Jabal Sayid dinilai strategis
Menurut Pangeran Abdulaziz, hasil penelitian tersebut menunjukkan besarnya potensi sumber daya mineral di Jabal Sayid.
"Ini menempatkan proyek ini di antara situs-situs sumber daya bumi langka yang paling signifikan saat ini yang sedang dikembangkan secara global," ujarnya.
Fokus Arab Saudi terhadap mineral kritis juga disebut semakin kuat setelah kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi ke Amerika Serikat pada November 2025.
Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani kerangka kerja sama mengenai mineral kritis dan penguatan rantai pasokan.
Kerja sama Ma'aden dan MP Materials
Kesepakatan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat kemudian diikuti perkembangan kerja sama di tingkat perusahaan.
Perusahaan pertambangan Arab Saudi, Ma'aden, menjalin kemitraan dengan perusahaan Amerika Serikat MP Materials untuk mengembangkan kemampuan pengolahan dan pemisahan unsur tanah langka.
"Ke arah ini mendapatkan momentum tambahan selama kunjungan HRH, Putra Mahkota Amerika Serikat, ke Amerika Serikat pada November 2025, ketika kedua negara menandatangani kerangka untuk kerjasama mengenai mineral kritikal dan pengekalan rantai pasokan," kata Pangeran Abdulaziz.
Kemitraan tersebut juga mencakup pengembangan produksi uranium yang terkait dengan sumber daya mineral di kawasan tersebut.
Uranium ikut menjadi bagian pengembangan
Selain unsur tanah langka, konsentrasi uranium yang disebut menjanjikan menjadi bagian lain dari potensi Jabal Sayid yang sedang dikembangkan.
"Setelah itu, terjadi kemitraan antara Perusahaan Pertambangan Arab Saudi, Ma'aden, dan perusahaan Amerika MP Materials untuk mengembangkan kemampuan untuk pengolahan dan pemisahan unsur bumi langka serta produksi uranium yang terkait," pungkasnya.
Temuan sekitar 114 juta ton bijih tersebut memperkuat perhatian terhadap Jabal Sayid sebagai salah satu proyek sumber daya mineral penting Arab Saudi. Namun, data yang disampaikan dalam pernyataan tersebut masih berupa estimasi sumber daya berdasarkan penelitian dan studi geologi.



















































