Redaksi Pewarta.co.id
Senin, Januari 05, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Arie Kriting Tuai Hujatan usai Singgung Polemik Sal Priadi, Akhirnya Minta Maaf |
PEWARTA.CO.ID — Komika sekaligus aktor Arie Kriting menjadi sasaran kritik warganet setelah ikut menanggapi kontroversi yang menyeret nama penyanyi Sal Priadi.
Polemik ini mencuat usai Sal Priadi berfoto bersama Sitok Srengenge, sosok yang disebut memiliki rekam jejak dugaan pelecehan seksual, sehingga memicu perdebatan luas di media sosial.
Melalui akun X miliknya, @arie_kriting, suami Indah Permatasari itu menyinggung persoalan dugaan kekerasan seksual yang melibatkan Sitok Srengenge. Arie menilai riuhnya perdebatan di media sosial terkait isu tersebut berakar dari lemahnya kepastian hukum di Indonesia.
“Menurut pendapat saya, semua pertikaian sosmed mengenai kasus kekerasaan seksual terjadi karena negara gagal memberikan kepastian hukum. Sehingga rakyat dengan rakyat harus saling berdebat mempertanyakan posisi mereka satu sama lain. Berisiknya dapat, keadilannya tidak,” tulis Arie, dikutip Minggu (4/1/2026).
Pernyataan tersebut rupanya memicu reaksi keras dari warganet. Banyak netizen menilai suara lantang di media sosial justru menjadi salah satu cara untuk menuntut keadilan bagi korban kekerasan seksual, terutama ketika jalur hukum dinilai belum berpihak sepenuhnya.
“Bang Ari, ketika ada kasus kekerasan seksual kita berisik aja negara gagal memberikan kepastian hukum,” tulis akun @pu*******.
Pendapat serupa juga disampaikan akun lain.
“Banyak yang berisik aja keadilannya ga dapet kan, apalagi nggak berisik,” sambung @ad******.
Bahkan ada pula yang menegaskan bahwa bersuara merupakan langkah logis.
“Loh harusnya itu logika dasar dong, bayangin berisik aja gak dapet keadilan apalagi senyap?,” tambah @go******.
Melihat derasnya respons publik, Arie Kriting akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permohonan maaf. Ia menegaskan bahwa cuitannya tidak dimaksudkan untuk menyudutkan atau membungkam masyarakat yang vokal menyuarakan kasus pelecehan seksual.
“Mohon maaf kalau twit saya menimbulkan kerancuan. Twit itu tidak ditujukan kepada yang setia bersuara melawan kasus pelecehan seksual. Twit itu karena saya kesal lihat rakyat terus saja berada di posisi sulit karena lemahnya penegakan hukum atas isu-isu semacam ini,” jelas Arie Kriting.
Dengan klarifikasi tersebut, Arie berharap pernyataannya dapat dipahami sesuai konteks, yakni sebagai kritik terhadap sistem penegakan hukum, bukan terhadap perjuangan publik dalam membela korban kekerasan seksual.



















































