Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, Maret 04, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Harga Minyak Dunia Melonjak, Bahlil Pastikan Pertalite Tak Naik |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan, meskipun harga minyak mentah dunia saat ini tengah merangkak naik akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, lonjakan harga minyak global tidak serta-merta berdampak pada harga BBM subsidi di dalam negeri. Menurutnya, pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga Pertalite selama belum ada kebijakan resmi yang mengubahnya.
"Jadi kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau harga minyak dunia naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," ujar Bahlil di Jakarta dikutip, Rabu (4/3/2026).
Harga minyak dunia lampaui asumsi APBN
Bahlil menjelaskan, harga minyak mentah dunia saat ini sudah berada di kisaran 78 hingga 80 dolar AS per barel. Angka tersebut melampaui asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.
Kenaikan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang memicu ketidakpastian pasar energi global. Situasi tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas energi, termasuk minyak mentah.
Meski demikian, pemerintah belum mengambil langkah untuk menyesuaikan harga BBM subsidi, terutama Pertalite. Pemerintah memilih menghitung secara cermat dampak fiskal dari kenaikan harga minyak dunia sebelum menentukan kebijakan lanjutan.
Beban impor dan dampak ke subsidi energi
Sebagai negara yang masih mengandalkan impor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari, Indonesia menghadapi tekanan tambahan pada sisi belanja negara ketika harga minyak global meningkat. Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar anggaran subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.
Namun di sisi lain, Indonesia juga memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak karena memiliki produksi domestik. Produksi minyak nasional tercatat sekitar 600 ribu barel per hari.
"Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung," tuturnya.
Artinya, pemerintah tengah melakukan kalkulasi antara tambahan beban impor dengan potensi kenaikan penerimaan negara dari produksi dalam negeri. Selisih itulah yang akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya.
BBM nonsubsidi berpotensi disesuaikan
Berbeda dengan Pertalite yang masuk kategori BBM subsidi, bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax akan mengikuti mekanisme pasar. Artinya, harga BBM nonsubsidi berpeluang mengalami penyesuaian jika harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.
Penyesuaian tersebut merupakan konsekuensi dari skema harga yang lebih fleksibel dan tidak sepenuhnya ditopang oleh subsidi pemerintah.
Meski ada potensi kenaikan pada BBM nonsubsidi, pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada rencana menaikkan harga BBM subsidi.
Pemerintah pastikan situasi aman
Bahlil menyampaikan bahwa hasil rapat bersama Dewan Energi Nasional belum memutuskan adanya kenaikan harga BBM subsidi.
Pemerintah, kata dia, masih memprioritaskan stabilitas harga untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.
"Sampai dengan kami rapat, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM," pungkasnya.



















































