Redaksi Pewarta.co.id
Sabtu, April 25, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Harga Minyak Goreng Kemasan Naik April 2026 |
PEWARTA.CO.ID — Harga minyak goreng kemasan di Indonesia kembali mengalami kenaikan pada April 2026. Berdasarkan data terbaru, harga komoditas ini kini menyentuh kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per liter, bahkan mencapai Rp22.292 per liter di sejumlah wilayah.
Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika pasar yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari distribusi hingga biaya produksi. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa lonjakan harga tidak sepenuhnya disebabkan oleh kelangkaan pasokan.
Data terbaru harga minyak goreng
Mengacu pada data Kementerian Perdagangan per Sabtu (25/4/2026), harga minyak goreng sawit kemasan premium tercatat mengalami kenaikan tipis, dari Rp21.866 menjadi Rp21.889 per liter.
Sementara itu, minyak goreng sawit curah juga ikut naik dari Rp19.532 menjadi Rp19.542 per liter. Di sisi lain, produk MinyaKita justru mengalami penurunan tipis dari Rp15.899 menjadi Rp15.889 per liter.
Namun jika melihat data dari Info Pangan Jakarta, tren harga menunjukkan variasi berbeda. Minyak goreng curah (kuning) tercatat naik menjadi Rp21.387 per kilogram atau bertambah Rp162. MinyaKita juga mengalami kenaikan menjadi Rp16.942 per liter atau naik Rp600.
Adapun minyak goreng kemasan premium dalam data tersebut justru mengalami penurunan sebesar Rp500 menjadi Rp22.292 per kilogram.
Distribusi jadi faktor utama
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak goreng terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh keterbatasan stok.
Menurutnya, salah satu faktor dominan adalah distribusi, terutama di wilayah yang secara geografis sulit dijangkau seperti Papua.
"Kalau harga minyak goreng MinyaKita, saya lihat di SP2KP itu Rp15.900-an ya dari Rp15.700-an HET-nya. Kalau minyak goreng premium itu terutama memang di daerah seperti Papua karena distribusinya," kata Mendag.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan logistik masih menjadi kendala utama dalam menjaga stabilitas harga di berbagai daerah.
Harga bahan baku ikut dorong kenaikan
Selain distribusi, naiknya harga minyak goreng juga dipengaruhi oleh meningkatnya biaya bahan baku, khususnya plastik untuk kemasan. Hal ini berdampak langsung pada biaya produksi yang akhirnya dibebankan ke harga jual di pasaran.
Menteri Perdagangan menyebut bahwa pemerintah telah menjalin komunikasi dengan produsen minyak goreng serta industri plastik untuk menjaga kelancaran produksi.
Langkah ini dilakukan agar pasokan tetap tersedia dan lonjakan harga dapat ditekan, terutama menjelang periode permintaan tinggi.
MinyaKita masih relatif stabil
Di tengah kenaikan harga minyak goreng kemasan premium, produk MinyaKita masih menunjukkan stabilitas yang relatif terjaga. Meski mengalami sedikit fluktuasi, harganya tetap berada di kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET).
Hal ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang sangat bergantung pada komoditas ini.
Dinamika harga masih berpotensi berlanjut
Pergerakan harga minyak goreng diperkirakan masih akan mengalami dinamika, terutama jika faktor distribusi dan biaya bahan baku belum sepenuhnya stabil.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan harga di lapangan melalui berbagai sistem pemantauan, guna memastikan intervensi dapat dilakukan secara tepat waktu.
Dengan berbagai faktor yang saling berkaitan, kenaikan harga minyak goreng kemasan menjadi gambaran kompleksnya rantai pasok komoditas penting ini di Indonesia.



















































