Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, Maret 04, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Ilustrasi. Rudal Iran |
PEWARTA.CO.ID — Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel di tengah memanasnya situasi keamanan kawasan Timur Tengah. Pernyataan tegas itu disampaikan oleh Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyusul serangan yang disebut Teheran sebagai agresi dari Washington dan Tel Aviv.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin (2/3/2026), Larijani menegaskan bahwa negaranya tidak gentar menghadapi potensi perang jangka panjang. Ia menyebut Iran telah bersiap menghadapi segala konsekuensi atas konflik yang terus berkembang.
"Berapapun biayanya, kami akan dengan tegas membela diri dan peradaban kami yang berusia 6.000 tahun," tulisnya, sebagaimana dilansir Middle East Monitor.
Ia juga menambahkan bahwa Iran akan terus mempertahankan diri terhadap apa yang disebutnya sebagai bentuk agresi. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap resmi Teheran yang menilai eskalasi saat ini bukanlah inisiatif dari pihaknya.
Dalam pernyataan yang sama, Larijani menekankan bahwa Iran memiliki rekam jejak sejarah yang berbeda dibandingkan negara-negara Barat dalam hal memulai konflik. "Seperti yang telah terjadi selama 300 tahun terakhir, Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang," tegasnya.
Eskalasi militer kian memanas
Ketegangan meningkat setelah Israel dan Amerika Serikat disebut melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran sejak Sabtu pagi. Pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan ratusan korban jiwa, termasuk sejumlah pejabat keamanan senior.
Sebagai balasan, Teheran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Beberapa laporan menyebutkan serangan balasan itu mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Situasi ini memperlihatkan pola saling serang yang berpotensi memperluas konflik di kawasan yang selama ini memang rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Tuduhan nuklir dan bantahan Iran
Washington dan Tel Aviv selama ini menuduh Teheran mengembangkan program nuklir dan sistem rudal yang dianggap mengancam keamanan Israel serta sekutu-sekutunya di Timur Tengah. Tuduhan tersebut menjadi salah satu alasan utama di balik peningkatan tekanan dan aksi militer terhadap Iran.
Namun, pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan damai, termasuk kebutuhan energi dan riset ilmiah.
Perbedaan narasi ini semakin memperkeruh suasana, terutama ketika jalur diplomasi belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam meredakan ketegangan.
Upaya diplomatik yang gagal redakan ketegangan
Konfrontasi terbaru ini terjadi di tengah adanya upaya mediasi diplomatik yang difasilitasi oleh Oman. Para pejabat Iran sebelumnya mengklaim bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan perkembangan positif sebelum akhirnya situasi berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Pecahnya permusuhan dinilai banyak pihak sebagai kemunduran serius dalam proses diplomasi kawasan. Eskalasi yang terjadi bukan hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas regional secara lebih luas.
Dengan pernyataan keras dari pejabat tinggi Iran dan respons militer yang terus berlanjut, dunia kini menyoroti bagaimana konflik ini akan berkembang. Sikap Iran yang menyatakan siap menghadapi perang berkepanjangan menandakan bahwa ketegangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv belum akan mereda dalam waktu dekat.



















































