Mauricio Souza Kecam Aksi Tendangan Kungfu di EPA U-20, Minta Pelaku disanksi Tegas

6 hours ago 11

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, April 23, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Mauricio Souza Kecam Aksi Tendangan Kungfu di EPA U-20, Minta Pelaku disanksi Tegas
Mauricio Souza Kecam Aksi Tendangan Kungfu di EPA U-20, Minta Pelaku disanksi Tegas

PEWARTA.CO.ID — Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, angkat bicara terkait insiden kekerasan yang terjadi di ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20.

Aksi tendangan kungfu yang viral di media sosial tersebut dinilai mencoreng nilai sportivitas dan menjadi ancaman serius bagi pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia.

Peristiwa itu terjadi dalam pertandingan antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 yang digelar di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (19/4/2026).

Dalam rekaman yang beredar luas, pemain Timnas Indonesia U-20, Fadly Alberto Hengga, terlihat melakukan tendangan keras ke arah pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis.

Usai insiden tersebut, Fadly diketahui telah menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Meski begitu, respons publik dan pelaku sepak bola tetap mengarah pada perlunya tindakan tegas untuk menjaga integritas kompetisi usia muda.

DIBERITAKAN SEBELUMNYA!

PSSI Kecam Tendangan Kungfu Fadly Alberto di EPA U-20, Komdis Siapkan Sanksi Berat

Kritik tajam terhadap kontrol emosi pemain muda

Souza mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai tindakan kekerasan seperti itu tidak seharusnya terjadi, apalagi dalam kompetisi yang bertujuan membina pemain muda.

"Dan tentang Dewa U-20 lawan Bhayangkara, saya sedih sekali terjadi seperti itu. Sebenarnya, saya pikir harus ada itu denda itu serius, untuk situasi seperti itu," kata Souza di Bali, dikutip pada Kamis (23/4/2026).

Menurut pelatih asal Brasil itu, pemain di level U-20 seharusnya sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang konsekuensi tindakan mereka di lapangan. Ia menegaskan bahwa usia muda bukan alasan untuk melakukan tindakan berbahaya.

"Saya pikir tidak ada alasan pemain U-20 itu tidak ada yang namanya anak kecil. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan. Dan sebenarnya sangat tidak baik kalau ada perkelahian seperti itu, bisa saja ada yang terluka dengan serius," tambahnya.

Souza juga menekankan bahwa protes dalam pertandingan masih dalam batas wajar, namun tindakan agresif hingga melukai pemain lain tidak bisa ditoleransi.

"Ini adalah masalah serius. Komplain itu bagian dari pertandingan, tapi kalau kita agresif dan kita pukul teman sendiri, tidak boleh. Dan harus dipikir itu dan tidak boleh terjadi itu dalam sepak bola lagi," lanjut Souza.

Refleksi kedisiplinan internal skuad Macan Kemayoran

Selain mengomentari insiden tendangan kungfu di EPA U-20, Souza juga menyinggung kondisi internal timnya. Ia mengakui bahwa persoalan kontrol emosi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Persija Jakarta sepanjang musim ini.

Hingga pekan ke-29 Super League 2025-2026, Persija tercatat telah menerima delapan kartu merah. Jumlah tersebut menjadikan Macan Kemayoran sebagai tim dengan kartu merah terbanyak kedua, berada tepat di bawah Arema FC yang mengoleksi sembilan kartu merah.

Souza menyebut bahwa pihaknya telah berupaya mengingatkan pemain agar lebih mampu mengendalikan emosi, terutama dalam situasi yang memicu protes terhadap wasit.

"Kami sudah bicara dengan tim tentang situasi yang kalau tidak bisa dikontrol maka akan merugikan. Emosi adalah hal yang bisa bikin kami rugi di kompetisi ini karena ada banyak kartu," sambung Souza.

Ia juga menilai bahwa jika para pemain mampu menjaga emosi dengan lebih baik, posisi tim di klasemen kemungkinan bisa lebih menguntungkan.

"Pastinya kalau tidak terjadi seperti itu pasti mungkin situasi akan lebih baik di klasemen. Ini jadi satu hal yang saya sampaikan ke pemain untuk lebih kontrol ketika banyak komplain ke wasit," tutupnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |