PDIP Sebut Buruh Masih Hidup seperti Era VOC

2 hours ago 4

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Mei 03, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

PDIP Sebut Buruh Masih Hidup seperti Era VOC
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, saat menyampaikan orasi di peringatan May Day yang digelar di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (3/5). (Dok. Istimewa)

PEWARTA.CO.ID — Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, menilai kondisi buruh di Indonesia saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Ia bahkan menyebut para pekerja seolah masih hidup di masa kolonial VOC karena regulasi ketenagakerjaan dianggap belum memberikan perlindungan yang memadai.

Pernyataan tersebut disampaikan Ribka ketika memberikan orasi dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026 bertajuk “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari” yang digelar di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (3/5/2026).

Menurut Ribka, hingga kini kaum pekerja belum mendapatkan kepastian hidup yang layak karena Undang-Undang Ketenagakerjaan dinilai belum berpihak kepada buruh.

“Kita semua hidup di Republik ini, (tapi) masih hidup di dalam VOC. Kita seperti hidup di dalam negara VOC. Belum ada kepastian hidup di dalam Republik ini karena Undang-Undang Ketenagakerjaan belum disahkan, belum berpihak kepada kaum buruh. Setuju?” ujar Ribka.

Dalam pidatonya, Ribka menegaskan bahwa tuntutan buruh sebenarnya sangat sederhana. Ia menyebut para pekerja hanya menginginkan keadilan dan kesejahteraan, bukan kemewahan.

“Buruh tidak menuntut mobil yang mewah. Buruh tidak pernah menuntut rumah yang mewah. Betul? Buruh hanya menuntut keadilan! Buruh hanya menuntut kesejahteraan! Tapi ini pun tidak diberikan oleh negara ini,” tegas Ribka.

Ia juga meminta anggota Fraksi PDIP di DPR RI agar benar-benar mendengar dan memperjuangkan aspirasi kaum pekerja dalam pembahasan regulasi ketenagakerjaan.

Singgung program MBG dan lapangan kerja

Selain menyoroti persoalan regulasi, Ribka turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam kesempatan itu, ia mempertanyakan prioritas yang lebih dibutuhkan masyarakat pekerja, khususnya terkait pendidikan dan lapangan pekerjaan.

“Kalau suruh memilih, saya tanya pada teman-teman semua yang hadir di sini: Buruh lebih baik senang dikasih MBG atau sekolah anak-anaknya gratis?” tanya Ribka.

Ia kemudian kembali melontarkan pertanyaan serupa kepada massa buruh yang hadir.

“Lebih baik dikasih MBG atau lapangan kerja? Sekali lagi, yang di sana belum ngomong. Senang dikasih MBG atau lapangan kerja bapak-bapak?” lanjutnya.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab serentak oleh para peserta dengan teriakan “lapangan kerja”.

Kritik perayaan Hari Buruh di Monas

Ribka juga menyinggung peringatan Hari Buruh yang sebelumnya digelar di kawasan Monas pada 1 Mei 2026. Menurutnya, kegiatan seremonial tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi kaum pekerja.

“Kemarin saya lihat 1 Mei, buruh hanya dikasih sembako, paling tidak dikasih 100 ribu. Tapi tidak menyelesaikan persoalan buruh. Outsourcing masih tetap outsourcing. Tidak menyelesaikan persoalan buruh,” tegas Ribka.

Ia pun menilai persoalan utama seperti sistem outsourcing dan kesulitan ekonomi pekerja masih belum mendapat solusi nyata dari pemerintah.

“Bagaimana bayar kontrak rumah? Betul teman-teman ojek? Teman-teman ojek kok lemas? Bisa setoran? Susah setoran!” pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |