Redaksi Pewarta.co.id
Selasa, Januari 06, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Prabowo Sindir Pakar Omon-omon, Sebut Suka Ngarang di Medsos, Siapa yang Dimaksud? |
PEWARTA.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran tajam kepada sejumlah pihak yang mengklaim sebagai pakar, namun kerap berbicara tanpa dasar jelas di media sosial maupun podcast.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi sisi lain dari kemajuan teknologi yang patut diwaspadai.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Perayaan Natal Nasional 2025 yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (5/1/2026) malam.
Di hadapan para hadirin, Prabowo menilai kebebasan berbicara di era digital sering kali disalahgunakan oleh oknum tertentu.
“Saudara-saudara, ini zaman teknologi ya, jadi sekarang teknologi itu ada media sosial, iya kan? Media sosial ini baik, tapi ada juga kadang-kadang bahayanya. Dengan banyak podcast-podcast, banyak pakar itu bicara asal bicara,” ucap Prabowo.
Sindiran untuk pakar yang mengaku paham pikiran Presiden
Prabowo secara khusus menyoroti munculnya “pakar-pakar” yang merasa paling mengerti isi pikirannya. Ia bahkan menyebut ada pihak yang seolah mampu menebak apa yang sedang ia rencanakan, padahal menurutnya hal itu tidak berdasar dan tak lebih dari sekadar "omon-omon", merujuk istilah hanya asal bicara.
“Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast. Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan oleh Prabowo? Ngarang itu dia,” ujarnya.
Tak hanya itu, Prabowo juga menyinggung narasi-narasi yang kerap memicu kegaduhan, termasuk isu konflik internal yang menurutnya tidak pernah ada.
"Prabowo sedang konflik internal dengan ini, nanti dengan itu’. Senangnya ramai, gaduh, padahal enggak ada, saudara-saudara,” sambungnya.
Jawaban untuk kelompok nyinyir
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengakui adanya kelompok-kelompok yang terus melontarkan kritik bernada nyinyir. Namun ia menegaskan, pemerintah yang dipimpinnya tidak akan terpancing dan tetap fokus bekerja dengan hasil nyata.
“Kita memiliki masa depan yang bagus walaupun ada kelompok nyinyir, iya kan? Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja,” ucap Prabowo.
Ia menekankan bahwa komitmen tersebut bukan sekadar retorika, melainkan telah ia buktikan sejak masa kampanye hingga memimpin pemerintahan.
Fokus swasembada pangan sejak kampanye
Prabowo mengingatkan kembali salah satu janji utamanya saat kampanye, yakni mewujudkan swasembada pangan. Menurutnya, fokus tersebut tidak berubah ketika ia resmi menjabat sebagai Presiden RI.
“Saya tidak berubah, waktu saya kampanye terakhir swasembada pangan yang pertama. Dan begitu saya jadi presiden, itu fokus saya. Dan saya beri target kepada tim saya: kita harus swasembada beras empat tahun. Itu target saya, empat tahun,” ujar dia.
Target tersebut bahkan berhasil dicapai lebih cepat dari rencana awal. Prabowo menyampaikan capaian besar pemerintah dalam hal kemandirian pangan nasional.
MASIH TERKAIT!
Prabowo Pamer Indonesia Swasembada Beras dalam Setahun dari Target Empat Tahun
Indonesia tak impor beras di 2025
Di hadapan umat Kristiani yang hadir dalam perayaan Natal nasional, Prabowo dengan bangga menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada 2025.
“Saudara-saudara, di Perayaan Natal ini saya dengan bangga hari ini saya bisa menyampaikan bahwa begitu lewat 31 Desember 2025, bangsa Indonesia sekarang sudah swasembada beras. Tahun 2025 kita tidak impor beras sama sekali,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pencapaian tersebut berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi pasar global.
“Target empat tahun kita bisa capai dalam waktu satu tahun. Dan kita bantu tidak hanya bangsa Indonesia, kita membantu dunia. Kenapa? Dengan kita tidak impor beras, harga beras dunia turun, turun ratusan dolar. Jadi banyak negara berterima kasih sama kita,” jelas dia.
Pernyataan Prabowo ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah riuh opini dan spekulasi di ruang digital, pemerintah memilih menjawabnya dengan kerja nyata dan hasil yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.



















































