Redaksi Pewarta.co.id
Selasa, Mei 05, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Trump Ancam Lenyapkan Iran dari Muka Bumi, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas |
PEWARTA.CO.ID — Situasi di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Trump menyatakan Teheran bisa “lenyap dari muka bumi” apabila menyerang kapal-kapal milik Amerika Serikat di jalur pelayaran strategis tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah Iran mengklaim rudalnya telah menghantam kapal AS di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 7 April lalu.
Pada Senin (4/5/2026), konflik kembali meningkat ketika Iran melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA). Di saat bersamaan, Trump mengungkapkan bahwa militer AS berhasil menghancurkan tujuh kapal kecil Iran di dekat Selat Hormuz.
Dalam wawancaranya bersama Fox News, Trump menegaskan kesiapan militer Amerika Serikat untuk menghadapi situasi tersebut. Ia juga kembali memperingatkan Iran dengan nada tegas.
“Kita memiliki lebih banyak senjata dan amunisi dengan kualitas jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” katanya, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
“Kita memiliki peralatan terbaik. Kita memiliki perlengkapan di seluruh dunia. Kita memiliki pangkalan-pangkalan ini di seluruh dunia. Semuanya dilengkapi dengan peralatan. Kita dapat menggunakan semua perlengkapan itu, dan kita akan menggunakannya jika kita membutuhkannya.”
AS jalankan Proyek Kebebasan di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat mulai menerapkan strategi yang disebut “Proyek Kebebasan” untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Operasi tersebut bertujuan membuka jalur perdagangan internasional yang sebelumnya terhambat akibat blokade Iran.
Washington mengklaim telah membantu dua kapal dagang AS melewati selat tersebut dengan aman. Namun, data dari situs pelacakan kapal memperlihatkan lalu lintas di kawasan itu masih sangat terbatas.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, menyebut banyak kapal dari berbagai negara masih tertahan di sekitar kawasan konflik.
“Kapal-kapal yang terdampar di daerah tersebut milik 87 negara yang merupakan ‘pihak yang tidak bersalah’ dalam konflik tersebut,” ujarnya.
Ia juga mengatakan pihak militer AS telah menghubungi sejumlah perusahaan pelayaran untuk mendorong aktivitas perdagangan kembali berjalan normal di Selat Hormuz.
“Selama 12 jam terakhir, kami telah menghubungi puluhan kapal dan perusahaan pelayaran untuk mendorong arus lalu lintas melalui [Selat Hormuz], sesuai dengan niat presiden untuk membantu memandu kapal dengan aman melalui koridor perdagangan yang sempit,” kata Cooper dalam sebuah pernyataan.
Meski demikian, belum diketahui sejauh mana perusahaan pelayaran internasional merespons jaminan keamanan dari pemerintah AS tersebut.
Iran serang Fujairah di UEA
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran kembali melancarkan serangan ke wilayah Uni Emirat Arab pada Senin. Kementerian Pertahanan UEA menyebut pihaknya mendeteksi dan menembakkan 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, serta empat drone.
Serangan itu menyebabkan kebakaran di Zona Industri Perminyakan Fujairah. Otoritas setempat mengonfirmasi tiga orang mengalami luka akibat insiden tersebut.
Pemerintah Iran melalui seorang pejabat yang diwawancarai Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) menyatakan serangan itu merupakan dampak dari kebijakan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
“Republik Islam tidak memiliki rencana yang telah direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud, dan apa yang terjadi adalah produk dari petualangan militer Amerika untuk menciptakan jalur bagi kapal-kapal untuk secara ilegal melewati Selat Hormuz, dan militer Amerika harus bertanggung jawab atas hal itu,” kata pejabat tersebut.
Blokade terhadap Iran masih berlangsung
Sementara AS berupaya membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, Washington juga menegaskan bahwa pengepungan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih terus dilakukan.
CENTCOM menyatakan sedikitnya 50 kapal komersial telah dialihkan oleh militer AS untuk memastikan kebijakan blokade terhadap Iran tetap berjalan sesuai rencana.
Ketegangan terbaru di kawasan Teluk Persia ini kembali meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas jalur distribusi energi global. Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia dan kerap menjadi titik panas konflik geopolitik internasional.



















































