Paus Leo XIV Tak Gentar Hadapi Kritik Trump, Tegaskan Komitmen Serukan Perdamaian

6 hours ago 4

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Selasa, April 14, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Paus Leo XIV Tak Gentar Hadapi Kritik Trump, Tegaskan Komitmen Serukan Perdamaian
Paus Leo XIV Tak Gentar Hadapi Kritik Trump, Tegaskan Komitmen Serukan Perdamaian

PEWARTA.CO.ID — Paus Leo XIV menanggapi secara terbuka kritik keras yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap dirinya.

Dalam pernyataannya pada Senin (13/4/2026), pemimpin Gereja Katolik itu menegaskan bahwa dirinya tidak merasa gentar menghadapi tekanan dari Gedung Putih.

Pernyataan tersebut disampaikan Paus Leo saat berbicara kepada awak media dalam perjalanan kunjungannya ke Aljazair, yang menjadi bagian dari rangkaian tur ke beberapa negara di Afrika.

"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, maupun berbicara lantang tentang pesan Injil," kata Paus pada Senin, saat memulai kunjungan beberapa hari ke empat negara Afrika. "Itulah yang saya yakini. Saya dipanggil untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan gereja."

Seruan damai di tengah konflik global

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Sabtu (11/4/2026), Paus Leo kembali menggaungkan pentingnya perdamaian dunia. Dalam doa perdamaian di Basilika Santo Petrus, Vatikan, ia menyerukan penghentian konflik bersenjata yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Meski tidak secara langsung menyebut konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Paus menyampaikan pesan yang jelas.

"Cukup sudah perang," ujar Leo.

Ia juga menyoroti bahwa konflik yang terjadi kerap dipicu oleh ambisi kekuasaan yang berlebihan. Dalam pandangannya, "khayalan kemahakuasaan" menjadi salah satu faktor utama pecahnya perang, termasuk yang melibatkan AS dan Israel di Iran. Paus pun mendesak para pemimpin dunia untuk segera mencari jalan damai melalui kesepakatan bersama.

Kritik tajam Trump di media sosial

Pernyataan Paus Leo tersebut mendapat respons keras dari Presiden Donald Trump. Pada Minggu (12/4/2026) malam, Trump meluapkan kritiknya melalui media sosial dengan nada tajam.

Trump menyebut Paus sebagai sosok yang “LEMAH terhadap Kejahatan, dan buruk untuk Kebijakan Luar Negeri.”

"Saya tidak menginginkan Paus yang berpikir bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir," kata Trump dalam unggahannya.

Keesokan harinya, Trump kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk meminta maaf atas pernyataannya tersebut, meskipun mendapat dorongan dari Uskup Robert Barron, salah satu tokoh Katolik di Amerika Serikat.

"Tidak... karena Paus Leo mengatakan hal-hal yang salah," kata Trump. "Dia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran. Dan Anda tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya. Akan ada ratusan juta orang yang tewas, dan itu tidak akan terjadi."

Trump juga sempat mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya menyerupai Yesus Kristus, meskipun unggahan tersebut kemudian dihapus.

Paus Leo XIV dan perannya di panggung global

Paus Leo XIV, yang berasal dari Chicago, mencatat sejarah sebagai paus pertama asal Amerika Serikat. Ia diangkat menjadi pemimpin Gereja Katolik pada Mei 2025, beberapa bulan setelah Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden.

Saat pengangkatannya, Trump sempat memberikan ucapan selamat dan menyebut terpilihnya Leo sebagai sebuah kehormatan bagi Amerika.

Sejak awal masa kepausannya, Leo dikenal konsisten menyuarakan perdamaian global. Ia berulang kali menyoroti berbagai konflik internasional, mulai dari perang saudara di Sudan, konflik Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah, termasuk di Lebanon dan Iran.

Seruan damai tersebut bukanlah hal baru. Pada 1 Maret lalu, Paus Leo telah mengeluarkan peringatan keras terkait eskalasi konflik global.

Ia menyampaikan "seruan tulus kepada semua pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak terjembatani."

Tegaskan pesan injil bukan alat politik

Menanggapi kritik yang diarahkan kepadanya, Paus Leo menegaskan bahwa seruannya untuk menghentikan perang tidak bermuatan politik, melainkan bagian dari nilai dasar ajaran gereja.

Ia menilai pesan Injil seharusnya tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

"Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mempromosikan dialog, serta hubungan multilateral antarnegara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah," katanya. "Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang terbunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan berkata, 'Ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini.'"

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |