Airlangga Sebut Fenomena Rojali dan Rohana Bukan Karena Daya Beli Masyarakat Turun, tapi Beralih ke Belanja Online

4 weeks ago 28

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Sabtu, Agustus 02, 2025

Perkecil teks Perbesar teks

Airlangga Sebut Fenomena Rojali dan Rohana Bukan Karena Daya Beli Masyarakat Turun, tapi Beralih ke Belanja Online
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menanggapi fenomena "rojali" dan "rohana" yang kini menjadi perilaku konsumen di Indonesia. (Dok. Tangkapan layar podcas "To The Point Aja!" di channel YouTube Sindonews)

PEWARTA.CO.ID — Fenomena "rojali" alias rombongan jarang beli dan "rohana" atau rombongan hanya nanya yang kini marak di pusat perbelanjaan ternyata tak serta-merta menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat sedang melemah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa tren tersebut lebih mencerminkan perubahan gaya konsumsi masyarakat di era digital.

Dalam tayangan podcast To The Point Aja! di kanal YouTube SINDOnews pada Kamis (31/8/2025), Airlangga menyampaikan bahwa pola konsumsi masyarakat telah mengalami pergeseran signifikan.

Meskipun pusat-pusat perbelanjaan masih ramai dikunjungi, masyarakat kini cenderung lebih selektif dalam membeli barang, bahkan lebih sering memilih untuk bertransaksi secara daring.

“Fenomena itu mencerminkan pergeseran perilaku konsumen. Walaupun pengunjung pusat perbelanjaan masih ramai, masyarakat kini lebih selektif dan cenderung mencari alternatif belanja seperti e-commerce atau menunggu diskon besar,” ujar Airlangga.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa aktivitas mengunjungi mal tanpa melakukan pembelian langsung tetap memberikan kontribusi ekonomi. Hal ini terlihat dari meningkatnya transaksi di sektor pendukung seperti kuliner dan hiburan yang tetap diminati pengunjung.

“Kunjungan ke mal tetap menciptakan demand. Meski hanya cuci mata, ada belanja makanan dan minuman di sana,” lanjutnya.

Airlangga juga menggarisbawahi bahwa gaya hidup masyarakat kini semakin bergeser ke arah digital. Kemudahan membandingkan harga secara online menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak konsumen memilih melihat-lihat barang di toko fisik terlebih dahulu, lalu memutuskan membeli secara online karena harga yang lebih bersaing.

“Banyak yang lihat-lihat dulu di mal, lalu beli online karena lebih murah. Ini tren yang berkembang di era digital,” tuturnya.

Untuk merespons perubahan ini, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menggairahkan kembali konsumsi domestik. Salah satu ide yang sedang digodok adalah kampanye diskon nasional dalam rangka momen-momen besar seperti perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saya sudah menyampaikan kepada Aprindo dan asosiasi lain agar mempertimbangkan program diskon besar-besaran. Misalnya, HUT ke-80 RI bisa dijadikan momen diskon 80 persen untuk produk tertentu. Ini bisa menjadi pemicu belanja,” ungkap Airlangga.

Menurutnya, strategi promosi semacam itu sangat potensial untuk membangkitkan kembali gairah belanja masyarakat, sekaligus menggerakkan roda perekonomian nasional.

Pemerintah pun terus mengupayakan penguatan sektor industri nasional agar tetap tangguh dan kompetitif, baik di pasar lokal maupun global.

Tidak hanya sebatas pada promosi, pemerintah juga sedang merancang berbagai insentif tambahan untuk mendorong daya beli. Rencana ini mencakup pemberian diskon di sektor transportasi, pariwisata, hingga ritel, sebagai bentuk dorongan adaptif dalam menyambut perubahan perilaku konsumen.

“Industri harus bersiap menghadapi perubahan ini secara adaptif,” tegasnya.

Fenomena rojali dan rohana sendiri dipandang sebagai tantangan struktural bagi sektor ritel di Indonesia. Namun, pemerintah meyakini bahwa kombinasi antara insentif fiskal, promosi kreatif, hingga reformasi sistem logistik dan digitalisasi akan mampu menjaga konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks ini, Airlangga menekankan pentingnya semua pelaku industri untuk tidak hanya melihat tantangan, namun juga menangkap peluang yang muncul dari perubahan pola konsumsi. Terlebih di tengah transformasi digital yang memudahkan konsumen untuk bertransaksi secara lebih fleksibel dan hemat biaya.

Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berharap bisa mendorong lonjakan konsumsi yang sehat dan berkelanjutan tanpa harus mengorbankan daya beli masyarakat, sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur yang positif.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |