Kronologi Video Prank Handuk Lepas yang Trending di X, Publik Diminta Bijak Tanggapi Fenomena Viral

12 hours ago 11

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, Mei 21, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Kronologi Video Prank Handuk Lepas yang Trending di X, Publik Diminta Bijak Tanggapi Fenomena Viral
Kronologi Video Prank Handuk Lepas yang Trending di X, Publik Diminta Bijak Tanggapi Fenomena Viral

PEWARTA.CO.ID — Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan munculnya video viral bertajuk “Prank Handuk Lepas” yang ramai diperbincangkan pengguna platform X.

Konten berdurasi lebih dari satu menit tersebut memancing rasa penasaran publik hingga menjadi trending dalam waktu singkat.

Video itu memperlihatkan seorang perempuan muda yang merekam aksinya saat menerima pesanan makanan dari kurir di dalam kamar.

Konsep prank yang diangkat dinilai mengandung unsur vulgar sehingga menuai beragam reaksi dari warganet.

Konten tersebut kembali memunculkan sorotan terkait tren kreator media sosial yang dianggap semakin berani membuat tayangan sensasional demi mengejar popularitas dan interaksi tinggi di internet.

MASIH TERKAIT!

Viral Video Prank Handuk Lepas di X Bikin Heboh, Netizen Ramai Cari Link hingga Picu Sorotan

Kronologi video prank handuk lepas

Dalam video yang beredar luas di media sosial, kamera terlihat diletakkan di atas meja di dalam kamar. Perempuan dalam rekaman itu tampak menyambut kurir pengantar makanan hanya dengan mengenakan handuk putih yang menutupi bagian tubuh sensitifnya.

Saat pesanan makanan diberikan, handuk yang dikenakan perempuan tersebut tiba-tiba terlepas. Sang kurir terlihat kaget dengan situasi yang terjadi di hadapannya.

Namun, perempuan itu justru tertawa setelah kejadian tersebut sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Potongan video itulah yang kemudian menyebar luas dan menjadi bahan perbincangan di berbagai platform digital.

RELEVAN DIBACA!

Video Prank Handuk Lepas Durasi 1 Menit Viral, Pakar Ingatkan Bahaya di Baliknya

Konten prank dinilai semakin melampaui batas

Fenomena viral prank handuk lepas menambah daftar panjang konten prank kontroversial yang ramai di media sosial belakangan ini. Jika sebelumnya prank identik dengan hiburan ringan, kini banyak konten yang dinilai mulai mengarah pada unsur vulgar dan tidak pantas.

Sejumlah kreator disebut sengaja membuat konten sensasional untuk meningkatkan jumlah penonton, komentar, hingga engagement di media sosial. Tidak sedikit pula prank yang dilakukan dengan mempermalukan orang lain atau menciptakan situasi tidak nyaman demi memancing reaksi spontan.

Konten semacam ini dianggap berisiko memengaruhi pengguna media sosial, khususnya anak-anak dan remaja yang setiap hari aktif mengakses platform digital.

“Ketika konten tidak pantas terus muncul di beranda dan mendapat perhatian besar, sebagian pengguna bisa menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar untuk ditiru,” demikian pandangan pakar komunikasi digital terkait maraknya konten vulgar di media sosial.

Berpotensi memicu dampak sosial dan hukum

Selain menuai kritik publik, prank bernuansa asusila juga dinilai berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum. Konten yang mengandung unsur pelecehan, eksploitasi, penghinaan, maupun penyebaran materi tidak senonoh dapat berujung pada pelanggaran aturan yang berlaku, termasuk UU ITE.

Dalam sejumlah kasus, korban prank juga disebut mengalami tekanan mental setelah direkam atau dipermalukan tanpa persetujuan. Dampaknya bahkan bisa memicu trauma hingga menurunkan rasa percaya diri karena video terlanjur tersebar luas di internet.

Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam menyikapi konten viral yang beredar di media sosial. Rasa penasaran terhadap video yang sedang trending sebaiknya tidak membuat pengguna internet ikut menyebarkan tayangan yang berpotensi melanggar norma atau merugikan pihak lain.

Pengguna media sosial juga diharapkan aktif melaporkan konten yang dianggap mengandung unsur asusila maupun meresahkan publik. Langkah tersebut dinilai penting demi menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan edukatif bagi semua kalangan.

Media sosial pada dasarnya dapat menjadi wadah kreativitas yang positif. Karena itu, kreativitas digital diharapkan tetap mengedepankan etika dan tidak dilakukan dengan cara melanggar batas kepatutan hanya demi viralitas sesaat.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |