Mengenal Istilah Rape Culture Pyramid, Ini Penjelasan dan Kaitannya dengan Kasus Pelecehan Seksual FH UI

10 hours ago 10

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Rabu, April 15, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Mengenal Istilah Rape Culture Pyramid, Ini Penjelasan dan Kaitannya dengan Kasus Pelecehan Seksual FH UI
Ilustrasi.

PEWARTA.CO.ID — Istilah Rape Culture Pyramid tengah menjadi sorotan publik di media sosial. Perbincangan ini mencuat seiring munculnya dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).

Konsep tersebut ramai dibahas karena dinilai mampu memberikan gambaran utuh tentang bagaimana tindakan yang kerap dianggap sepele ternyata dapat berkembang menjadi bentuk kekerasan seksual yang lebih serius. Dalam konteks ini, perilaku seperti candaan bernuansa seksis hingga komentar tidak pantas menjadi bagian awal dari rantai yang lebih besar jika terus dibiarkan.

Melansir 11thprincipleconsent, Rape Culture Pyramid merupakan model yang menjelaskan tahapan perilaku, mulai dari yang paling sering dianggap lumrah hingga tindakan paling ekstrem dalam bentuk kekerasan seksual.

RELEVAN DIBACA!

5 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswa FH UI di Grup Chat yang Viral di Media Sosial

Tahapan dalam rape culture pyramid

1. Normalization (pewajaran)

Lapisan paling bawah dalam piramida ini menggambarkan berbagai perilaku yang sering kali dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tindakan tersebut berpotensi menjadi pintu masuk bagi bentuk kekerasan yang lebih serius.

Contohnya meliputi komentar bernuansa seksual, candaan seksis, hingga rape jokes yang kerap dianggap sebagai humor.

2. Degradation (merendahkan)

Pada tahap ini, perilaku mulai menunjukkan unsur merendahkan dan mengobjektifikasi individu, khususnya korban. Tindakan yang terjadi tidak lagi sekadar candaan, melainkan sudah mengarah pada pelecehan.

Contohnya antara lain catcalling, pengiriman konten seksual tanpa persetujuan, tindakan menguntit, penyebaran konten intim (revenge porn), hingga praktik victim blaming.

3. Assault (kekerasan nyata)

Tahap paling atas dalam piramida merupakan bentuk kekerasan seksual secara langsung. Pada level ini, tindakan yang dilakukan sudah termasuk pelanggaran serius terhadap hak dan tubuh seseorang.

Contohnya meliputi pemaksaan hubungan seksual, pemberian zat tertentu untuk melumpuhkan korban, hingga pemerkosaan.

JANGAN LEWATKAN!

Ini Tampang 16 Mahasiswa FH UI Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Grup Chat Kampus

Bentuk-bentuk kekerasan seksual

Kekerasan seksual tidak selalu berbentuk fisik semata. Terdapat berbagai tindakan lain yang juga masuk dalam kategori ini, di antaranya:

  • Ucapan yang melecehkan fisik atau identitas gender
  • Memperlihatkan alat kelamin tanpa persetujuan
  • Catcalling atau siulan bernada seksual
  • Mengirim pesan, foto, atau video seksual tanpa izin
  • Mengambil atau menyebarkan konten pribadi bermuatan seksual
  • Mengintip aktivitas pribadi seseorang
  • Mengancam atau membujuk untuk melakukan aktivitas seksual
  • Sentuhan fisik tanpa persetujuan
  • Membuka pakaian korban secara paksa
  • Percobaan hingga tindakan pemerkosaan
  • Memaksa kehamilan atau aborsi
  • Membiarkan kekerasan seksual terjadi

Melalui pemahaman Rape Culture Pyramid, masyarakat diharapkan dapat lebih peka terhadap berbagai bentuk perilaku yang selama ini kerap dianggap sepele, namun memiliki dampak besar jika terus dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |